Thursday, January 27, 2011

Novel "King Antonidas's Super Duper Adventure

King Antonidas mempersembahkan
King Antonidas’s Super Duper Adventure!!!

Di Surabaya tentunya!

Edisi PREMIERE!
Isi cerita langsung menggabungkan isi dari 3 novel, yaitu Novel “Liburan Terbaikku,” “Liburan Terbaikku 2,” dan “Liburan Terbaikku 3!”
Novel non fiksi berbahasa Indonesia.
Diterbitkan oleh King Antonidas. Semua hak cipta dan hak kopi dimiliki King Antonidas corp.
Chapter 1: Liburan, aye, di Surabaya!
Scene 1: Liburan sekolah datang atú!

Ini adalah kisah tentang liburanku. Ya, liburan yang menyenangkan tapi sekaligus juga ada petualangan yang menegangkan! Tapi sih, sebelum itu, akan kuungkit sedikit pada waktu penerimaan raport dan kenaikan kelasku. Kisah ini akan kumulai di Banyuwangi tempatku tinggal, hari Jum’at, jam 06:30 AM…

Pada waktu itu, aku dan Mother Nature sedang berada di SDK Santa Maria Banyuwangi, tempatku bersekolah. “Aku yakin, Mother Nature, bahwa bukan hanya aku saja yang ndredeg (ndredeg: perasaan takut atau deg – degan terhadap sesuatu).” Ujarku yakin. Mother Naturepun kembali bertanya (dalam hal ini sudah kuartikan, karena kalian pasti tidak paham bahasanya Mother Nature): “Lha kamu kok yakin sekali, rik? Aku aja kurang yakin kalo bukan cuma kamu yang ndredeg.” “Nah, mau bukti, Mother Nature? Itu, lihat gerombolan anak disana! Lalu yang disitu! Lalu yang dibawah itu!” ujarku kepada Mother Nature sembari menunjuk – nunjuk ke tempat – tempat yang kusebutkan tadi memakai Tongkat Apprentice (Pelafalan: Tongkat Apprenteis, yang memiliki arti “Tongkat Pemula”) kepunyaanku. Dan lantas Mother Nature terheran – heran melihat bahwa anak – anak di berbagai tempat itu ternyata sangat tegang. Sampai ada yang pucat pasi mukanya. “Nah, sekarang kau percaya kan, Mother Nature?” tanyaku. “Ya, rik. Pantasnya kamu ini jadi tukang ramal saja.” Ujar Mother Nature setengah menyindir. “HE! AKU KAN SUDAH JADI APPRENTICE ARCHMAGE (Pelafalan: Apprenteis Archmeig), MANA BISA GANTI KERJAAN!” ujarku menjerit – jerit. Teman – temanku yang lain tidak heran, karena mereka sudah tahu kalau aku berteman dengan Mother Nature. Bebarengan dengan jeritanku, bel masuk dibunyikan. Pak Ibrahimpun masuk, (Pak Ibrahim itu guru kelas 5A) serentak dengan pemberian salam. “Selamat pagi, Pak! Berkah dalem, Pak!” ujar kami semua. Dan, pada waktu Pak Ibrahim memulai pengambilan Raport, suasananya hening sekali. Ya, kami pasti ndredeg, karena kan nanti raport itu yang menentukan kami berhasil naik atau tidak. Dan, ketika aku masih bingung memikirkan aku ini naik apa tidak, Pak Ibrahim sudah sampai ke namaku. “Erick!” ujarnya memanggilku dengan suaranya yang lantang. Wah! Batinku. Tuhan, berikanlah hambamu ini ketabahan…

Raportnya setiap anak berlabel, walaupun ada kemungkinannya kalau labelnya berbeda. Labelku sendiri ternyata yang memberi adalah teman lamaku yang menjadi King of Archmage (Pelafalan: King of ar’mage), yaitu King Antonidas. Di label raportku itu, ada gambar foto King Antonidas dan kalimat singkat: “Yang tabah, Rik! Aku akan mendoakanmu dari Dalaran.” Detik itu pula, akupun melongo. “King Antonidas!” ujarku membatin. Syukurlah, kau masih ingat padaku!

Lembar demi lembar kubuka secara hati – hati. Dan, setelah berlembar – lembar kubuka, aku terpaku pada tulisan ini: Naik/Turun ke kelas 6. Horee! Itu tandanya kalau aku berhasil naik kelas dan pangkat! Buktinya, Ada kuda Archmagi (Pelafalan: Archmaji) menungguku diluar kelas, dan aku sudah punya Brilliance Aura (Pelafalan: Brilliens Aura) yang sangat indah sekali. Pangkatku jadi Archmage (Pelafalan: Archmeig) sekarang. “Wah, terimakasih King Antonidas!” Sementara aku berjingkrak – jingkrak kaya wong meret otakké (aka orang gila ^_^), Holy Light (Pelafalan: Holi Laigt) datang dan menyinariku. Akupun terdiam. Aku lebih terkejut lagi ketika mendengar suara menyapaku. “Ya, Rik. Tak apa, karena memang sudah sepantasnya kau mendapatkan itu. Kunjungilah aku dan Dalaran sekali – kali, karena aku rindu padamu.” Ternyata itu suara King Antonidas! Akupun kembali membisu, dan begitupula semua orang yang ada dikelas ini. “King Antonidas!” bisikku kaget. “Ya Rik. Ini aku, King Antonidas.” Ujar King Antonidas. “Ingat, Rik,” ujar King Antonidas melanjutkan, “Kapanpun kau membutuhkanku, aku selalu siap membantumu.”

Dengan kenaikan pangkatku ini, banyak Spell (atau yang biasa disebut jampi – jampi, Pelafalan: Sepell) baru yang kuketahui, dan ada pula Spell yang hilang. Contoh, pada waktu aku masih menjadi Apprentice Archmage, (Pelafalan: Apprenteis Archmeig) aku hanya mengetahui 3 Spell, yaitu Heal (Pelafalan: Hiel), Blizzard (hujan salju, Pelafalan: Blissard), dan Summon Water Elemental (Pelafalan: Samen Water Elemental). Dan, sebagai Archmage (Pelafalan: Archmeig), Spell yang hilang yaitu: Heal (Pelafalan: Hiel). Tapi yang ditambahkan: Brilliance Aura (Pelafalan: Brilliens Aura), dan                              Mass Teleport (Pelafalan: Mass Teleport). “Hah? Mass Teleport?” ujarku terheran – heran. “Mother Nature, nanti Mass Teleport ini akan kucicipi.” Ujarku pada Mother Nature. Aku juga sempat kaget pada waktu keluar kelas. Mamaku sebagai Mother of Archmage (Pelafalan: Mather of Archmeig) mendatangiku, diiringi Imperial Holy Horn, Chimes High (Itu adalah sejenis irama musik penyambutan, namun entah apa kegunaannya, dan Pelafalannya: Imperiyal Holi Horn, Chimes Haigh). Sementara itu, mamaku sudah melepasku dan menaiki undak – undakan yang menuju ke panggung khusus. Dia memperlihatkan kesan, bahwa dia akan membacakan sesuatu. “Selamat untuk kenaikan kelas dan pangkat Erick, yang telah dinobatkan menjadi Archmage,” lalu mamaku memberi isyarat agar aku mendekat, ”Dan sebagai Reward, kuizinkan pergi ke Surabaya!” diiringi Imperial Holy Horn, Chimes High lagi, mamaku (dan aku, tentunya ^_^) beranjak pulang. Mamaku langsung melongo ketika melihat Teleport Circular (Pelafalan: Teleport Sirkyular) muncul. Dan dia lebih kaget lagi ketika tahu – tahu kami semua sudah berada dirumah. “Oh, ternyata ini toh gunanya Teleport,” ujarku. Didalam, aku kembali mendapat kejutan. King Antonidas datang bersama murid perempuannya, Jaina Proudmoore. “King Antonidas! Jaina! Syukurlah kalian bisa datang! Aku memerlukan banyak bantuan disini!” jeritku. “Ya, Rik. Firasatku berkata, kamu perlu bantuan. Dalaran kutinggalkan sebentar toh tak apa, kan ada King Terenas.” Ujar King Antonidas. “Lha King Terenas itu siapa, King Antonidas?” tanyaku keheranan. “Anu, King Terenas itu Raja pertama di Lordaeron. Tapi dia sudah pensiun. Anaknya, Prince Arthas dan Prince Kael’thas, sekarang sedang sibuk sekali. Kael berada di Outlands (Pelafalan: Outlends). Dan Arthas kalau tidak salah masih berada di Lordaeron. Tapi dari kabar Uther The Lightbringer (Pelafalan: Ather the Laigtbringer), katanya Arthas akan segera pergi ke daerah Northend, untuk mengejar The Scourge (Pelafalan: The Skerj).” Ujar King Antonidas panjang lebar. “Rik, malam ini aku kepingin menginap disini. Bolehkah?” Tanya King Antonidas. “Ya boleh toh,ujarku. Detik itu pula lonceng Cathedral des Imperials (Baca: Katedrel des Imperials) berbunyi. “Bagus! King Antonidas, Jaina, ayo, kita minum Teh dulu!”

Kami sekeluarga mempunyai kebiasaan yang menganut kebiasaanya orang Inggris, yaitu minum Teh. Kecuali untuk Papiku dan adikku, Victor. Mereka menjadi Unholy Wizard menganut sifatnya yang nggak senonoh ^_^. Mereka punya kebiasaan Unholy Ritual setiap malam. Itulah letak perbedaan Unholy Wizards (tidak ada singkatannya) dengan Holy Wizards (bisa disingkat Wizard). Kami, sebagai golongan Mage dibebaskan untuk memilih kebiasaanya sendiri.

Tapi ternyata sore itu ada masalah. RnÁ, Priest (Pengartian Harfiah: Pendeta, Pengartian menurut King Antonidas’s Holy Dictionary Revisi 2001: Dokter atau sejenisnya) yang paling bijaksana dan paling ‘spesial‘ segera datang kerumahku. Ya, kalian perlu tahu kalau RnÁ itu punya beberapa Spell tambahan yang mungkin tidak dimiliki Priest lain. Contohnya Teleport yang sebetulnya Spell punya Archmage. “King Antonidas! Erick! Jaina!” ujar RnÁ. “Arthas akan datang!” “Lha ada apa dengan kedatangan Arthas, RnÁ? Kan Arthas itu orang baik – baik, toh?” tanyaku. Seolah mendengar perkataanku, detik itu pula Uther The Lightbringer datang. “Erick, King Antonidas, Arthas itu sudah mengambil Runeblade Frostmourne yang ternyata adalah buatan Lich King yang adalah Undead! Dan dia akan datang malam ini untuk menyerang Dalaran!” ujarnya. “Wah, gawat itu!” seruku. “Baiklah, kalau begitu. RnÁ, ajak Jaina ke Dalaran bersamamu. Kalian berdua harus menyiapkan segala sesuatunya disana. Paham?” ujar King Antonidas. “Ya, King Antonidas.” Ujar RnÁ dan Jaina bersamaan. 2 Teleport Circular muncul, dan dalam sekejap RnÁ dan Jaina menghilang. “Rik, ayo kita lekas – lekas minum teh. Aku tidak mau mengambil resiko Dalaran diserang tanpa sepengetahuanku. Setelah minum teh, kita harus berangkat.” Ujar King Antonidas. “Baiklah, King Antonidas. Ayolah, pasti mama sudah menyediakan makanan kesukaanmu.” Ujarku menimpali. Benarlah apa yang kukatakan. Ada Imperial Cereal yang rasanya tak ada duanya. Itu makanan kesukaan kami berdua. Imperial Cereal! Makanan kesukaanku!” jerit kami berdua.“ Ya, karena kalian perlu makanan yang “Instan” tapi sehat dan mengenyangkan, ya mama buatkan aja Imperial Cereal.” Ujar Mamaku.

Selesai menyantap menu makan sore dan minum teh, kami langsung berangkat. Sekali lagi, dua Teleport Circular muncul. Kami segera sampai di pintu utama untuk masuk ke Dalaran, yang terletak dekat dengan Jembatan utama. Jaina dan RnÁ sudah menunggu. “King Antonidas, Arthas berhasil membuat perkemahan tidak terlalu jauh dari sini! Ia akan bisa menyerang kapan saja.” Ujar RnÁ memberi laporan. “Bagus! Arthas harus siap menghadapi Priest dan Mage dari Dalaran.” Ujar King Antonidas puas. “Lekaslah kalian bersembunyi. Aku punya firasat Arthas akan segera datang” ujarnya lagi.

1. Aura yang dibuat King Antonidas untuk menghalangi Arthas bersama Undead Minionsnya.

“Wizards of Kirin Tor! I am Arthas, First of the Lich King's Death Knights! I demand that you open your gates and surrender to the might of the Scourge!” ujar Arthas ketika ia sudah datang. King Antonidas maju bersama 2 Knights (Yang bernama Arnosvich dan Evarlnosvich) untuk mengawal dan berkata ”Greetings, Prince Arthas. How fares your noble father?” ujar King Antonidas dengan berwibawa. ”Lord Antonidas. There's no need to be snide.” Timpal Arthas agak tersinggung. ”We've prepared for your coming, Arthas. My brethren and I have erected Auras that will destroy any undead that pass through them.” Timpal King Antonidas lagi. Detik itu pula, aku, Jaina dan King Antonidas langsung mengsummon Aura itu. “Your petty magics will not stop me, Antonidas.” Ujar Arthas menantang. ”Pull your troops back, or we will be forced to unleash our full power against you! Make your choice, Death Knight.” Lalu King Antonidas langsung mengTeleport dirinya sendiri. Sebenarnya ia masuk kedalam. Ia mempersiapkan Mage, Archmage, dan Priest yang ada.

2. King Antonidas menteleport dirinya sendiri ke dalam untuk mempersiapkan diri.
“Sudah siap, semua?” Tanya King Antonidas. “Ya sudah, toh.” Timpalku. King Antonidas masuk, diiringi pintu depan yang berhasil didobrak. “Wah, gawat ini” pikir King Antonidas. Kami berdua (Aku dan Jaina) berusaha sekuat tenaga untuk menahan Arthas dan Undead Minions yang terus menyerang. Namun, karena Arthas dan Undead Minionsnya terlalu kuat, maka kami terpaksa pergi meninggalkan 2 Pedestal of Aura yang digunakan untuk terus mengsummon Aura tersebut. Teleport Circular muncul di dekat King Antonidas, tempat Violet Citadel (yang selanjutnya dikenal dengan nama Antonidas’s Fort) berada. Mula – mula King Antonidas heran melihat Teleport Circular muncul. “Wah, mudah – mudahan bukan Erick atau Jaina ini” ujarnya. Tapi memang dari sononya harapannya itu tidak terkabul, lha kan aku dan Jaina yang menggunakan Teleport? “Waduh! Kenapa kalian berdua datang? Jangan bilang kalau Arthas terlalu kuat, jadi Aura itu belum cukup ampuh.” “Memang itu yang mau kukatakan, King Antonidas! Arthas akan bisa tiba disini kapan saja.” jawabku. “Bagus, kalau begitu. Awas kau, Arthas” timpal King Antonidas dengan geram.

Tidak lama kemudian, Arthas berhasil masuk di Violet Citadel. “Attack!” perintah King Antonidas. Walaupun Arthas dan Undead Minionsnya sangat kuat, tetapi hanya dalam beberapa menit kemudian mereka berhasil dikalahkan. “I say… your petty magics… will not… stop me… Antonidas…” ujar Arthas lemah. “So, you still can’t believe Our Magics can stop you? Goodbye, Arthas.” Timpal King Antonidas sembari membunuh Arthas. Tamatlah riwayat seseorang yang awal mulanya baik, tapi berakhir jahat. “Selamat tinggal, Arthas, semoga ada tempat spesial menunggumu di Neraka,” ujarku. “He! Jangan yakin dulu! Arthas kan juga Raja, sama seperti aku, jadi dia masih bisa di – Revive (Dihidupkan kembali) kapan saja!” ujarnya. “Wah, gawat kalau begitu.” timpalku.
3. Gambar ketika King Antonidas menjadi spirit. Gambar yang berwarna oranye dengan lingkaran biru dibawahnya adalah King Antonidas.
Memang, benar kata King Antonidas. Malam itu juga, tanpa peringatan, Arthas datang lagi. Kali ini Dalaran yang kalah, karena King Antonidas belum siap. “It pains me to even look at you, Arthas.” Ujar King Antonidas menyesal. ”I'll be happy to end your torment, old man. I told you that your magics could not stop me.” Timpal Arthas, lalu iapun membunuh King Antonidas. “King Antonidas…” ujarku meratap, ketika sudah berada di Dalaran (RnÁ memberitahuku tentang kejadian ini, makanya aku datang). “Ya, Rik?” jawab King Antonidas. “What the… Am I Hearing Ghosts now?” ujarku terperangah. “Tidak, Rik. Aku masih hidup. Tapi dalam bentuk spirit.” Seketika itu pula aku bisa melihat spiritnya King Antonidas. ”Lekas, Rik, bebaskan pula teman temanku yang ada disekitar sini, dan ajak kami semua ke Fontana de Holy (Holy Fountain)! Hanya kekuatan dari Fontana de Holy yang bisa mengembalikan kami!” papar King Antonidas. ”Baiklah.” timpalku. “Ayolah, Conjurus Rex, Fordred Aran, dan Landazar, ayo, ikut aku ke King Antonidas,” ujarku.

Di Fontana de Holy, Aku segera mengucapkan beberapa patah Spell. “Ayo, King Antonidas, masuklah. Ya, ya, Landazar, gantian ya,” ujarku. Tidak lama kemudian, semua Archmage itu sudah hidup kembali. “Keterlaluan Arthas itu! Lihatlah, Dalaran hancur lebur gara – gara dia!” seru King Antonidas marah. “King Antonidas, mau tidak mau kau harus meminjam Pulau Kirrin milik George.” Ujarku. “Ya, ya, kurasa itu ide bagus. Ayo, rik, temani aku menemui Lima Sekawan” ujar King Antonidas. Di malam yang gelap itupun, kamipun menggunakan Teleport agar dapat segera sampai di Pondok Kirrin. “Lima Sekawan!” teriakku ketika sampai di Pondok Kirrin, yang berada di Desa Kirrin, dekat Surabaya. “Ada apa?” ujar Julian kaget. “Anu, Julian, bisakah kau panggilkan George?” ujarku menimpali. “Ya, tunggulah sebentar.” Timpal Julian. “George! He, George! Kau dimana? Ayo, kemarilah, King Antonidas dan Erick ingin bertemu!” jerit Julian. “Ada apa, King Antonidas? Dan kenapa… Wah, Rik, kau sudah berubah! Kenapa ada kuda yang kautunggangi sekarang? Terus itu apa, yang bergerak dibawahmu?” Tanya George terkagum – kagum. “Ini namanya Brilliance Aura. Aura yang akan mem...” Ujarku menjawab, tapi dipotong oleh King Antonidas. “Kami datang kesini karena ingin bertanya, bolehkah kami semua meminjam Pulaumu? Iya, Pulau Kirrin” “Untuk apa?” timpal George. “Ada kejadian buruk yang menimpa King Antonidas dan seluruh Rakyat Dalaran, Ujarku. “Dalaran berhasil dihancurkan oleh Arthas! Dan untuk sementara kami berniat untuk menginap di Pulau Kirrin. Kami mau membangun pasukan dulu!” paparku. ”Baiklah, tapi apa kalian tidak keberatan untuk menginap disana bersama Night Elf, High Elf, Blood Elf, Orc, dan Human?” ujar George. “Hah?” ujarku dan King Antonidas serempak. “Apa – apaan Arthas ini?!! Belum cukupkah dia merusak Dalaran?” ujar King Antonidas marah.

Sementara kami sedang menyebrangi Circular sea yang menjadi selat pengawas Pulau Kirrin, malam telah larut. “King Antonidas, aku musti pulang sekarang. Maaf ya, aku tidak bisa menemanimu terus,” ujarku lalu menambahkan, ”Lho? Kemana Jaina?” tanyaku pada King Antonidas. “Anu, rik, dia pulang ke Theramore Isle yang letaknya dekat sini, jadi kalau aku perlu bantuan, aku bisa memintanya pada si Naval Palladia Warlock, yaitu Admiral Proudmoore (Laksamana Proudmoore), ayahnya Jaina. Ya sudah, rik! Pulanglah, dan istirahatlah. Dan ingatlah pesanku ini; Jangan sekali – kali kau mendatangiku malam ini. Bila kau datang, aku tidak bisa membayangkan apa yang terjadi padamu. Besok pagi kamu akan mengetahui apa yang kulakukan malam ini, Ujar King Antonidas memberi pesan. “Hah???” ujarku terheran – heran.

Namun ya kuturuti wae (saja). “Mother Nature, ayolah, kita pulang sekarang. Aku yakin besok pasti akan menegangkan,” ujarku. Memang ada benarnya kataku itu. Keesokannya, pagi pagi sekali King Antonidas datang. Ia tampak kelelahan. ”Ada apa, King Antonidas? Kok kamu tampaknya lelah sekali???” tanyaku. “Hah, aku berhasil, rik!!! Kamu akan segera tahu apa yang kulakukan semalam. Kemarin malam, Aku membuat banyak sekali pasukan dan berhasil mengalahkan penjaga luar dan nanti siang kami akan menyerang Arthas di Violet Citadel. Maukah kamu ikut?” ujar King Antonidas sembari bertanya. “Ya! Tentu saja! Aku ingin sekali melihat Arthas kaget dan menyerah kalah, Timpalku. Tapi sekarang aku harus sekolah dulu.”

Di sekolah, cuacanya cerah. Hatiku bergembira, wajahkupun berseri - seri! Banyak temanku yang heran, dan merekapun bertanya: “Nah, kamu ini kenapa lagi, Rik? Dari tadi mringis – mringis (tersenyum – senyum) wae? He, King Antonidas, Erick ini kenapa?” sebelum King Antonidas sempat menjawab, aku sudah menjawab: ”He, tahukah kalian kalau malam ini aku akan ke Surabaya? Aku naik Travel lagi!!! Bayangkan,” ujarku memberi jeda, “Aku naik yang kelas VVIP!” ujarku menambahkan dengan nada tandas. Merekapun (teman – temanku, maksudnya) langsung melongo serempak. Ha! Batinku puas. Mereka memang sengaja tidak kuberitahu, biar tahu rasa, mangap – mangapa dhewe (melongo – longolah sendiri) ^_^.

Siang itu, aku terheran – heran sendiri melihat Mother Nature mendung. “Tak apa kalau kau mendung, Mother Nature, aku akan memakai Teleportku sekarang juga” ujarku, lalu diiringi Teleport Circular, akupun menghilang. Mother Naturepun terperangah. “He, Erick ini kemana?” ujarnya. Mendadak King Antonidas datang, dengan Teleport pula. “He, Mother Nature! Erick sudah ada dirumah. Kau tidak perlu khawatir lagi!” ujar King Antonidas, lalu iapun menghilang dengan Teleport. “Ah, keterlaluan para Archmagi ini!” seru Mother Nature marah. Seketika itu pula terjadilah badai yang dahsyat. Akibatnya? Arthas yang berada di Dalaran ketakutan setengah mati. “He, Lich, did you know about this hurricane?” Tanya Arthas kepada temannya yang menemaninya waktu penyerangan ke Dalaran. “I don’t know, Arthas. Quick! Summon a pedestal for me! I will make my astral form search about this Hurricane” timpal Kel’thuzad, lich yang kusebutkan tadi. “Okay, Lich. Let’s the summoning commence!” ujar Arthas memberi aba – aba. Lalu, Arthas bersama 2 Fallen Priest mulai meng summon pedestal yang Kel’thuzad sebutkan. Tapi,sementara itu, di rumahku, King Antonidas dan aku sedang kebingungan. “Mother Nature! He, cukup! Kau tidak perlu marah, aku ada disini!” ujarku sembari memberi tanda menggunakan Blizzard. “King Antonidas, bagaimana ini? Mother Nature benar – benar marah! Dia tidak mau memperhatikan tandaku!” ujarku panik. “MOTHER NATURE! HE, CUKUP! CUKUP, KATAKU!!!” jerit King Antonidas dengan suaranya yang menggelegar. Aku sampai terlompat kaget. “Wah, rik, kamu harus ikut aku ke Fontana de Holy, karena hanya kekuatan dari Fontana de Holy milik High Elf itulah yang bisa menghentikan Mother Nature!” ujarnya. “Lho, King Antonidas, kau lupa ya kalau Dalaran masih terkorupsi?” tanyaku setengah heran. “Iya, tapi kan Fontana de Holy terjaga dengan pintu, dan sampai detik ini Arthaspun belum bisa memasukinya. Aduh, aku lupa! Arthas masih ada disana, dan dia akan bisa mendobraknya kapan saja! Lekas, rik, kita mesti memakai Teleport!” ujar King Antonidas. Dan, detik itu pula, kamipun memakai Teleport untuk dapat segera sampai di Fontana de Holy. Namun, Arthas sudah selesai meng summon pedestal dan Kel’thuzadpun segera mengeluarkan tubuh astralnya. Dan dia juga menemukan Fontana de Holy yang tertutup. “Prince Arthas! Did you remember a door that we can’t open? Behind the door there’s a fountain that we can use to stop this hurricane and also we can corrupt that fountain to ultimately destroy Dalaran.” Ujar Kel’thuzad panjang lebar. “Good, lich. Now I can ultimately destroy this unholy s*** Kirin Tor,” ujar Arthas licik. Namun boleh dibilang Arthas dan Kel’thuzad terlambat mendatangi Fontana de Holy, karena ketika mereka sampai, aku dan King Antonidas sudah sampai. “King Antonidas! Lihatlah, Arthas datang! Lekaslah bersembunyi, King Antonidas, biar aku yang menghadang mereka!” ujarku. “Tapi aku ti…” “sudah, tolong jangan membantah lagi, King Antonidas! Aku yakin aku bisa kok.” Ujarku menyelat perkataan King Antonidas. Setelah King Antonidas agak jauh dariku, diapun memakai Teleport untuk kembali kerumahku. Sementara itu, aku sudah berhadapan dengan Arthas. “Greetings, Erick. Are you want a battle with me?” ujar Arthas. “Yes. Obviously, Arthas, timpalku dengan berwibawa. Setelah itu, kamipun saling tanding. Arthas memakai Spell Death coil dan aku memakai Starfall. King Antonidas yang melihat dari rumahku langsung kaget. “Darimana Erick mengetahui Spell starfall ini?” ujar King Antonidas terperangah. Kami (aku dan Arthas) masih tetap berperang. Akhirnya, tinggal kami berdua saja yang tersisa. Undead Minions kepunyaan Arthas sudah habis. Dan aku memang tidak membawa pasukan sama sekali. Apa yang terjadi akhirnya? Arthaspun terpaksa menyerah kalah. pretty a**h*** for you Erick… I… I… surrender… for now… and… my death… will… make… little difference… now… the corruption… of this land… begins…” ujar Arthas. “I think there’s special place for you in hell, Arthas. You destroying Dalaran and all of people in Dalaran, and you still want to corrupt this land? I think you can’t, Arthas. I intend to kill and bury you in your father’s ash, so you can’t corrupt this land again. Goodbye, Arthas.” Ujarku menimpali dengan berwibawa, dan akupun membunuh Arthas, dan menguburnya di tempat King Terenas, yang berperan sebagai ayahnya Arthas. Dan kali ini, The Scourge benar – benar tamat riwayatnya, jadi Arthaspun tidak dapat direvive. Namun aku masih khawatir. Masih ada undead yang lain, yaitu The Burning Legion. Pemimpinnya Lord Archimonde the Warlock. Mereka kan bisa saja sewaktu – waktu datang kesini dan mengambil Urn of King Terenas? Itulah yang kutakutkan dan kukhawawatirkan sekarang. “Aku harus memberitahu King Antonidas, sekarang juga!” ujarku setengah menjerit. Detik itu pula King Antonidas datang.“Hebat benar kau Rik! Aku tidak menyangka kamu bisa berwibawa seperti itu,” ujar King Antonidas terkagum – kagum. “Ah, itu biasa saja, kok. King Antonidas, ayo sekarang kita memasuki The Chamber of Fontana de Holy! Dan setelah itu, aku ingin berdiskusi sebentar denganmu. Itu, tentang The Burning Legion.” ujarku. King Antonidas langsung terkesiap. Tapi dia menjawab ‘ya’.

Tapi rupanya ada masalah (lagi ^_^). Walaupun masalahnya kecil, tapi cukup merepotkan. Nah, masalahnya ini apa? Anu, rupanya King Antonidas lupa kalau untuk membuka pintu pengawas Fontana de Holy, dia (atau, tepatnya, kami berdua) harus membaca serentetan Spell untuk menghidupkan The Enhanced Obelisk yang akan membuka pintu masuknya. “Ah, tak apa, rik, aku hafal kok Spellnya. Ini” ujar King Antonidas sembari menunjukkan sebuah kertas yang kumal, namun bercahaya. Aku mengerti kalau itu kertas khas Dalaran yang bagusnya minta ampun. Kami berduapun mendatangi dua Circle of Summoning, dan kamipun membaca Spell yang sama sembari menggerak – gerakan tangan. Tak lama kemudian, Pintu terbuka. “Rik, tunggu disini sebentar. Aku akan memanggil Medivh, ayahku.” Ujar King Antonidas. Aku terkejut ketika mendengar suara Terompet, yang begitu indah. “King Antonidas, ini suara terompetnya siapa?” tanyaku. “Oh, ini dulu terompetnya Cenarius, pemimpin Night Elf. Pangkatnya Demigod. Namun baru kemarin dia meninggal karena dibunuh oleh adiknya Thrall, (si pemimpin Orc) yaitu Grom Hellscream.” Papar King Antonidas panjang lebar. Tapi, kenapa ayahmu tidak datang?” tanyaku lagi. “Oh, itu dia!” ujarku. “King Antonidas! Father surprised you sounding Horn of Cenarius!” ujar Medivh, ayahnya King Antonidas (yang kemungkinan berarti: King Antonidas! Ayah kaget kau membunyikan Horn of Cenarius!) “Father! erick suceed to rescue me in Arthas's betrayal! But now Mother Nature going angry! Help us Father!!!” ujar King Antonidas, yang artinya: Ayah! Tadi Erick berhasil menyelamatkanku dari serangan Arthas!!! Tapi sekarang Mother Nature marah! Ayah, tolong kami! Nah, sebelum kulanjutkan, aku ingin bertanya, apakah kalian merasa lebih baik jika aku menulis bahasa aslinya Medivh, atau kalian ingin lansung kuartikan? Pasti kalian menjawab ‘ingin langsung diartikan. Baiklah, akan kuartikan saja. Tapi, kalian perlu ingat kalau hanya tulisannya yang kuartikan, dan ingat bahwa aku belum paham bahasanya Medivh itu. “Erick, coba bunyikan terompetnya King Antonidas lagi!” ujar Medivh. “Hah??? King Antonidas, apa kata ayahmu?” tanyaku terheran – heran (ingat kalau aku tidak paham bahasanya Medivh, hanya kalimatnya saja yang kuartikan untuk kalian). “Rik, ayahku bilang kamu harus menerompet lagi dengan terompetku. Nih!” ujar King Antonidas menimpali. “Baiklah, King Antonidas.” Timpalku, lalu terdengarlah suara Horn of Cenarius yang merdu. Akibatnya, Tyrande si pemimpin Night Elf (yang sekarang) terkejut setengah mati. “He, that’s Horn of Cenarius that we searched for! What the hell is it doing here???” ujar Tyrande. “Berhasil, King Antonidas! Lihatlah, para Priest datang! Lho, kok ada lagi yang datang? Itu siapa, King Antonidas?” ujarku terheran – heran. “Itu para Mage, dan Archmage, Rik,” ujar King Antonidas menimpali. Lalu iapun mengucapkan serentetan kata kata dalam bahasa Simplified Dialek (Atau Dialek kuno, yang merupakan bahasanya Medivh). Kalau diartikan secara harfiah mungkin begini: Hai penduduk Dalaran semua! Sekarang ibu dari alam marah! Kami semua perlu bantuan kalian! Ucapkanlah doa untuk Ibu dari Alam!!!

Setelah itu, kami sama sama berdoa kepada Mother Nature (kecuali aku, karena aku kepikiran tentang sesuatu). King Antonidas heran melihatku diam. “Rik, kamu kenapa? Ayo, kita sama – sama mensummon disini!” ujar King Antonidas. Tapi, beberapa detik kemudian aku sudah membisu lagi, dan King Antonidas harus mengingatkanku lagi. Ada mungkin sepuluh kali kejadian itu terulang. Namun, tak lama kemudian semuanya selesai. Mother Nature tersadar dari amukannya, dan menampakkan penyesalan yang sangat mendalam. “Maafkan aku, semuanya, maafkan aku…” ujar Mother Nature sedih.

Hari itu kami namai ‘Hari Badai’, karena hanya sekali itulah Mother Nature mengeluarkan badai yang begitu dahsyat. Kami berduapun pulang, memakai Teleport. Saat itu sudah sekitar jam 4 sore. “King Antonidas, ayolah, kita mandi dulu,” ujarku. “Ya, rik. Setidak tidaknya, setelah kita mengalami kejadian yang cukup menegangkan hari ini, terkhususnya kamu, marilah kita ambil waktu istirahat,” Timpal King Antonidas. “Oh, ya. Katanya kamu mau membicarakan tentang The Burning Legion. Ada apa, rik? Kenapa kau ingin sekali membahas mereka yang ‘jelek’ itu?” ujar King Antonidas melanjutkan. “Ah, sebenarnya tak apa, King Antonidas. Hanya saja aku khawatir kalau Archimonde, si pemimpin The Burning Legion itu datang ke Dalaran dan mencuri Urn of King Terenas dimana aku menaruh mayatnya Arthas, mungkin mereka dapat merevive Arthas!” ujarku menimpali. “Ah, kurasa kau tak perlu khawatir lagi, Rik. Aku tadi sempat menyelinap sebentar, dan aku membuat Pedestal el Aurora dan aku juga memanggil beberapa orang Mage yang mengetahui Spell untuk terus mengsummon Aura itu. Mereka akan membuat Archimonde dan Undead Minionsnya kesulitan untuk mengambil Urn of King Terenas. Tapi bila Urn of King Terenas berhasil mereka ambil, aku tidak berani mengatakan apa yang akan terjadi.” Ujar King Antonidas panjang lebar. “Aku tahu, King Antonidas. Arthas akan direvive dan akan bertambah kuat, tapi bukan cuma sampai situ! King Terenas akan mereka hipnotis dan akan membantu mereka dalam penyerangan ke Dalaran.” Ujarku menimpali lagi. “Ya! Rik, kau juga harus tahu, bahwa The Burning Legionitu adalah golongan Elite Undead. Mereka mempunyai kemampuan yang tidak dimiliki golongan undead (alias The Scourge atau kelompoknya Arthas), yaitu gain strength. Ability (kemampuan) itu fungsinya untuk menambah kekuatan seorang hero yang mereka revive. Jadi, nanti mungkin fisik Arthas akan membesar, dan kekuatannya akan empat kali lipat dari yang sekarang, rik,” ujar King Antonidas agak cemas. “King Antonidas, darimana kau tahu semua hal ini?” tanyaku keheranan, karena King Antonidas rasanya tidak pernah sedekat itu dengan undead. “Rik, dulu, aku adalah…… adalah…… pemimpin mereka.” Ujar King Antonidas menimpali. “Hah!!! Tidak mungkin, kau… kau… kau pasti cuma bercanda, kan?” ujarku kaget dan tergagap - gagap. Tapi King Antonidas menggeleng dan melanjutkan: “Dulu, kami sekeluarga memang sudah menjadi golongan Wizards, yang terdiri dari…” “Priest, Sorceress, Apprentice Mage, Mage, Expert Mage, King of Mage, Apprentice Archmage, Archmage, Expert Archmage, King of Archmage seperti kamu, King Antonidas, dan God of Archmage” ujarku menyelat. “Betul. Tapi, pada suatu hari, kami didatangi oleh orang yang aneh. Dan dia berhasil mengkorupsiku dan mereka juga membunuh ibuku. Tapi, Medivh, ayahku, berhasil kabur. Dialah yang membuat Dalaran dan dialah pula pemimpin pertama disana. Namun, sementara itu aku sudah menjadi God of Unholy Archmage, di daerahnya The Burning Legion. Waktu itu aku merasa baik – baik saja, malah aku menikmati kekuasaanku itu. Namun, suatu hari Medivh (ayahku) datang diam diam dan menculikku. Di Dalaran, dia memanggil semua golongan Wizard yang kamu sebutkan tadi, dan dia menyuruh semuanya untuk membaca Spell of dispelling magic. Setelah beberapa lama (tepatnya beberapa hari), aku dibawa ke Fontana de Holy. Disana, ayahku dengan sikap mengancam menyuruhku masuk kedalam Fontana de Holy. Setelah itu, ayahku membacakan beberapa rentet Spell, dan terjadilah suatu keajaiban! Aku seolah – olah seperti lahir kembali, dan bebas dari korupsi The Burning Legion. Semenjak saat itulah, aku menggantikan ayahku memimpin di Dalaran.” Ujar King Antonidas bercerita. “Hebat benar pengalamanmu, King Antonidas! Pantas saja The Burning Legion begitu antusias menyerang kita!” ujarku terkagum kagum. “Tapi, rik, ayolah, kalau kau tidak mandi sekarang, mungkin akan ada barisan panjang orang antri mandi nanti,” ujar King Antonidas lagi. “Ya sudah. Ayo, kita mandi!” ujarku. “Dan khusus malam ini, akan ada terapi spesial!” ujarku melanjutkan.

Sesudah kami mandi, acara minum teh kami laksanakan. Malam ini lumayanlah, ada telur mata sapi, nasi goreng dan Imperial Cereal. Oh, ya. Nama lain Imperial Cereal adalah Cereale Imperiale. “Cereale Imperiale! Makanan kesukaanku!!!” ujar kami berdua bersamaan (lagi). “King Antonidas, rupanya kamu terkenal sekali, ya?” ujarku. “Hah?!! Terkenal apa, rik?” Tanya King Antonidas keheranan. “Nah, ayo kutunjukkan! Di komputerku, King Antonidas,” ujarku menimpali. Setelah kami berdua memasuki kamar, akupun menyalakan komputer. Dan setelah itu, akupun membuka game Warcraft 3: Reign of Chaos, dan memutar satu video interlude yang judulnya ini: Jaina’s meeting. Disitu, tampaklah King Antonidas marah – marah dan seterusnya dan seterusnya. Juga ditampakkan Jaina disana. King Antonidas dengan malu – malu menjawab, “Iya, rik. Itu Dalaran waktu pertama kali kupimpin. Aku bukannya kenapa tidak mempercayai The Prophet itu, namun kan aku masih takut kalau aku dikorupsi lagi, dan…” “Ya, King Antonidas, aku mengerti perasaanmu, kok.” Ujarku menyelat. Lalu akupun membuka satu video lagi, yang isinya kedatangan Arthas (yang sudah dikorupsi) ke Dalaran, dan menghancurkannya. Itu terjadi kemarin! “Iya, rik, semua video ini benar. Mestinya waktu itu aku mendengarkan nasehat dari The Prophet.” Ujar King Antonidas agak menyesal. “Ah, tak apa, King Antonidas. Itu bukan masalah.” Ujarku menimpali lagi. Lalu aku juga menunjukkan beberapa gambar. “Itu Landazar! Bagaimana dia bisa masuk disitu?” Tanya King Antonidas keheranan. “Ah, percayalah, King Antonidas, kau pasti tidak mau tahu” ujarku. Sementara itu, sudah jam delapan. “Oh, ya, King Antonidas. Aku mau bertanya: Apakah waktu kamu mati dan menjadi spirit seperti kemarin, kamu punya kemampuan (Ability) dan pangkat?” tanyaku. “Ya, rik! Ada yang punya, ada yang tidak punya. Aku punya, kok. Kemarin pangkatku jadi Ghostly King of Archmage, dan abilityku agak sedikit meleset dari ability Archmage pada umumnya, yaitu Justice Come, Brilliance Aura, Blizzard, Teleport (alias Mass Teleport), dan The Angel. Walaupun aku belum sempat mencobanya (karena aku menyuruhmu dan Jaina mereviveku dan teman – temanku) tapi sebetulnya aku sudah hafal benar apa kegunaanya. Contoh, The Angel merupakan Spell pengganti Starfall, yang sama sama mematikan. Bila Starfall akan menurunkan hujan bintang, maka The Angel akan menurunkan sekumpulan Holy Angel yang akan menyerang dan mematikan musuh dengan segera. Justice Come juga merupakan Spell baru yang menggantikan Summon Water Elemental. Dengan mengsummon seorang Holy Angel yang akan segera membunuh musuh. Lumayan, kan?” ujar King Antonidas panjang lebar. “Iya, King Antonidas. Oh, ya. Ngomong – ngomong, Gimana kabar Violet Citadel? Bukankah itu Pusatnya Dalaran?” ujarku bertanya. “Iya, rik. Kamu benar, memang itulah pusatnya Dalaran. Namun, sayangnya, Violet Citadel  sudah dikorupsi oleh Arthas. Yang satu – satunya kita bisa lakukan sekarang adalah berharap ada keajaiban. Karena, sebelum Violet Citadel  bebas dari korupsi, kita tidak dapat melawan Undead.” Ujarnya. “Ah, bisa, kok!” ujarku memberi semangat.“ Dengan kekuatan da...” Namun, kata kataku terputus, karena ada bel berbunyi. Seketika itu aku merasakan bahwa jantungku berdetak cepat. Tak terasa kalau aku berlari lari kedepan. King Antonidas langsung melongo. “He, rik, tunggu!” jeritnya. Keadaan saat itu boleh dibilang kacau balau. Entah, rasanya hatiku riang sekali. “Ma! Mama! MAMA! Barang barangku sudah siap? He, King Antonidas! Coba… Wah, indah sekali…” Ujarku berteriak – teriak, namun akhirnya terdiam. “Ada apa, rik? Kamu kok diam saja… Wow! It’s Great!” ujar King Antonidas terdiam pula. Bukannya kenapa, kami agak terkejut melihat Travel yang menjemputku. It can’t be…” ujarku kaget. Ya, kalian perlu tahu, kalau Travel TE sudah berubah. Ukurannya membesar, dan dengan itu aku langsung tahu fiturnya bertambah. Ada Brilliance Aura yang terus bergerak di bawah Travel ini. Dan sangat besar sekali! Lalu adapula penambahan satu ruangan yang fungsinya untuk summoning. Ya, namanya Summoning room. Ada lapisan emas yang arti lainnya mengubah cat TE ini, dilengkapi garis perak yang mewah dan mengkilat. “Hebat, TE!” ujarku. “Rik, jujur, aku tidak menyangka kalau hasil upgrademu bisa seperti ini,” ujar King Antonidas. Lho? Bukannya kamu ya yang mengupgrade?” tanyaku keheranan. “Bukan, kok?” timpal King Antonidas. “Lho?Terus siapa? Ah!” ujarku lalu melanjutkan. “Pasti ayahmu, King Antonidas! Kalau tidak, pasti The Prophet.” “Iya, mungkin juga, ya?” timpal King Antonidas. “He, ayo lekas masuk, King Antonidas! Nanti kita ditinggal!” ujarku setengah berteriak. Walaupun air muka King Antonidas memancarkan keheranan, dia tetap masuk. ”Rik, kamu tidak salah? Aku ikut? Kau bermimpi rupanya!” ujar King Antonidas setengah keheranan. “Ah, tak apa King Antonidas. Ini, aku ada tiketnya!” ujarku lalu aku menunjukkan selembar Tiket. Lalu King Antonidas langsung terdiam. “Ya, kau benar, Rik. Tanpa tiket aku kan tak mungkin ikut? Nah…” “Kamu tak usah khawatir, King Antonidas. Sebenarnya kemarin aku secara diam diam memesankan tempat duduk untukmu.” Ujarku menyelat. Kami masing masing menduduki kursi VVIP yang memang sangat mewah. Ya, itu adalah hal yang sangat menyenangkan bagiku.

Perjalananpun dimulai. Akhirnya, batinku. Kita ke Surabaya! Pemandangannya lumayan, walaupun terkadang hanya kegelapan yang bisa kulihat. Dan aku rasanya lupa menceritakan tentang seseorang. Siapa, ya? Ah, ya! Anak – anakku! Mereka adalah bantal dan ikan hiu. Golongan mereka adalah Novice Priest. “King Antonidas, apakah kita tidak bisa membuat Violet Citadel  yang lain dan di tempat lain?” tanyaku menanyakan masalah Violet Citadel  yang tadi sudah kubahas. “Bisa, rik, namun fiturnya terbatas. Dan namanyapun bukan Violet Citadel, tapi hanya Citadel.” Ujar King Antonidas agak sedih. “Ah, kalau begitu kita buat saja satu Citadel cadangan di sebuah tanah kosong, dekat Kirrin” ujarku. “Dulu itu tanah sebuah istana yang megah, namanya Kastil Mon Tresor. Lima sekawan sudah berhasil memecahkan misteri dan teka teki disana. Dan ujar pemiliknya, dia mau menghancurkan Kastil itu dan membuat rumah baru di dalam Kirrin. Kita bisa membelinya dari pemiliknya, dan membuat sebuah Citadel disana!” ujarku menambahkan. Namun King Antonidas tak sempat menjawab, karena Mother Nature memberi tanda. Sekitar 2 jam lagi kita akan sampai di depot setia. Bergembiralah semua!!!” ujarnya. “Horeee!!!” ujarku. King Antonidas agak heran melihatku tampak sangat gembira. “Kenapa kau bergembira, rik? Itu kan Cuma… cuma… eh, cuma…” “Cuma tempat makan, kan? Itu menurutmu, King Antonidas. Kalau menurutku tempat itulah yang menyimpan sejuta kenangan indah yang terjadi di Dalaran dan Surabaya. Dan ingat, jalan masuk tersembunyinya Dalaran terletak dekat sana, lho?” ujarku menyelat. “Iya, itu benar. Ya sudah, kita tak usah memperpanjang masalah ini lagi! Nanti kita malah bertengkar jadinya.” Ujar King Antonidas. Sementara itu, kami melewati beberapa pertanian. Memang, daerah Jawa Timur boleh dibilang sarat akan pertanian. Itu sesuatu yang hebat! “King Antonidas, apakah kau tidak berniat untuk, yah, katakanlah, berlibur?” tanyaku. “Iya, rik. Dan niatku, tahun ini, aku akan liburan bersamamu di Surabaya!” ujar King Antonidas menimpali. “Benarkah? Wah, terimakasih, King Antonidas!!!” jeritku. “Rik, aku juga mau memberimu sesuatu. Ini” ujar King Antonidas sembari mengeluarkan sebuah buku. “Lho? Ini buku apa, King Antonidas?” ujarku terheran heran. “Ini adalah Book of Spells. Didalamnya, kamu akan menemukan beberapa Spell yang bagus dan unik! Kamu juga bisa menambahkan Spell lainnya didalam buku ini. Tinggal tulis saja namanya di dalam buku ini, dan ia akan menambahkannya secara otomatis!” ujarnya. “Wah…… Terimakasih, King Antonidas! Oh, ya. Aku juga mau bertanya lagi. Apakah ada kuda yang mempunyai Aura? Dan apakah para peneliti di Dalaran belum menemukan sesuatu yang baru?” tanyaku menimpali. “Oh, memang ada kuda yang seperti itu, rik! Dan ini juga secara tidak langsung berhubungan dengan pertanyaanmu yang kedua. Peneliti di Dalaran beberapa hari yang lalu berpikir: ‘Seandainya aku memiliki kuda yang mempunyai Aura…’ dan merekapun mulai bereksperimen. Pelbagai ramuan dicoba, namun hasilnya nihil. Dan barulah, sekitar beberapa jam kemudian ditemukan suatu ramuan, yang bila diminumkan ke kuda yang menjadi induk, danakan memperanakkan kuda yang mempunyai Aura! Namun, kamu tidak bisa langsung melihat Auranya, karena dia akan beradaptasi dulu dengan Aura pemiliknya. Contoh: Aku mendapat giliran pertama mencoba kuda beraura itu. Tapi waktu itu aku heran, karena kuda itu tidak ada Auranya sama sekali. Tetapi, Nanacacipactzin yang menjadi High Priest of Ra memberitahuku: “Jangan khawatir, King Antonidas. Untuk beberapa menit, kudamu yang baru ini akan mencontoh Brilliance Auramu. Nanti, kalau sudah, biasanya dia akan meringkik sekali, dan setelah itu cobalah turun. Nanti akan ada Brilliance Aura yang sama persis seperti kepunyaanmu! Dan aku melakukan persis seperti yang dikatakan Nanacacipactzin. Apa hasilnya? Kudaku ini sekarang mempunyai Brilliance Aura! Tapi bukan itu saja, lho?!! Dia bisa menyerang musuh dan mempunyai ability Teleport dan Summon Horse (yang maksudnya dia akan mengeluarkan satu kuda dan menggunakannya untuk menyerang musuh), serta mempunyai Kantong (Inventory) juga! Wah, itu benar benar hebat, Rik! Oh, dan juga ada kuda yang bisa digunakan untuk membawa orang!” ujar King Antonidas bersemangat. “Iya, kalau itu sih aku sudah tahu, King Antonidas.” Ujarku. “Iya, tapi tidak seperti kuda kebanyakan, Rik. Kuda ini mempunyai Aura adapter, Teleport dan Summon Horse juga, sama seperti kuda beraura yang tadi! Dan kecepatannya dalam mengantarkan barang dan orang, wah, boleh dibilang kayak kereta ekspres!” ujar King Antonidas. “Tunggu. Tadi kamu bilang, ‘barang’? Jadi kuda itu ada Inventorynya dong?” timpalku. “IYA!” Jerit King Antonidas kegirangan. Sementara itu, ternyata kami sudah hampir sampai di Depot Setia. “King Antonidas, ayolah, kita mesti turun sebentar lagi. Oh, ngomong ngomong Mother Nature kemana ya? Jangan jangan dia tidur lagi, ya?” “Iya, rik. Memang dari tadi dia tidur. Aku agak khawatir, soalnya Mother Nature jarang jarang seperti ini…” ujar King Antonidas menimpali. Ya, malam itu sibuk dan ramai sekali…

Di Depot Setia, akupun menuju ke kamar mandi, untuk Buang Air Kecil sebentar. Dan kemana King Antonidas? Entahlah, tapi terakhir kulihat dia di Summoning Room. Dia sedang membaca serentetan Spell. Ah memang King Antonidas itu sukanya yang aneh aneh! “Mother Nature, kira kira kamu tahu tidak apa yang dilakukan King Antonidas?” tanyaku pada Mother Nature, yang sudah terbangun dari tidurnya. “Mungkin dia mau naik pangkat jadi God of Archmage, Rik.” Ujar Mother Nature menimpali. “Hah? God of Archmage? Apa itu, Mother Nature?” ujarku heran. “God of Archmage itu adalah Tuhan dari semua Archmage yang ada. Jadi dia akan bisa membuat kerajaannya sendiri dan…” “Hah?!! Jadi King Antonidas mau menjadi God of Archmage? Aku harus menghenti…” ujarku menyelat perkataan Mother Nature, namun Mother Nature sendiri menyelat perkataanku, begini katanya: “Tapi, Rik, God of Archmage yang kuartikan ‘Tuhan’ itu tidak benar – benar menjadi ‘Tuhan’, sebenarnya hanya namanya saja yang begitu, dan mungkin King Antonidas nanti mempunyai ability Summon Building, dan mungkin pula fisiknya membesar.” “Oh, rupanya hanya begitu, toh.” Ujarku menimpali dengan lega. “Tapi, ada sistem kerjanya, lho? King Antonidas bebas memilih selama berapa lamakah dia mau menjadi God of Archmage. Kecuali kalau dia memang mengundurkan diri, lho.” Ujar Mother Nature panjang lebar. Tapi, aku masih saja bingung. Kenapa King Antonidas mau menjadi God of Archmage, Pikirku. Tapi pikiranku terputus, karena Mother Nature berseru memperingatkanku, begini ujarnya: “Rik, lekaslah kau mengambil makanan dan minuman! Aku punya firasat, sekitar seperempat jam lagi kita akan berangkat! Ayo, lekaslah!!!” “Iya, Mother Nature,” ujarku menimpali. Dan mendadak King Antonidas datang, dengan muka merah padam. “Ada apa, King Antonidas? Kenapa kau kelihatannya marah sekali?” tanyaku. “Ah, sebenarnya tidak apa apa, Cuma tadi The Prophet datang, dan berkata (dalam bahasa Inggris): ‘You will not became The God of Archmage, Antonidas. It’s not your time for it!’ Apakah kamu tahu maksudnya?” ujar King Antonidas. “Ha, The Prophet bilang begitu? Nah, rupanya dia berkata bahwa kamu belum bisa jadi God of Archmage, King Antonidas.” “Lha kok bisa begitu?” Tanya King Antonidas. “Ya aku juga nggak ngerti.” jawabku. “Oh, ya sudah. Lha ngomong – ngomong tadi kamu bilang ada Teh ya? Ayo kita minum!” ujar King Antonidas. Dia sudah tidak marah lagi seperti tadi. Kamipun menuju ruang makan yang terdapat di bagian belakangnya Depot Setia, dan mengambil makanan. King Antonidas dan aku mengambil Mi Goreng sepiring penuh. Dan apa yang diambil Mother Nature? Oh, ternyata dia makan sepiring Angin ditambah bumbu Pohon dan Batu. “Hah?? Makanan macam apa itu, Mother Nature?” tanyaku. “Ini namanya makanan ‘Raja raja’. Dinamai begitu karena dulu ini makanan Raja Angin, Raja Hutan, Raja Air, Raja Batu, Dan Raja Gunung. Itu sebelum aku diciptakan, lho, Rik. ”Ujar Mother Nature menjawab. Mendadak Jaina datang bersama Uther, karena mereka ingin ikut berlibur. “Bolehkah kami ikut, King Antonidas?” Tanya mereka berdua pada King Antonidas. “Boleh saja, kalau Erick mengijinkan.” Ujar King Antonidas. “Iya, tak apa apa, ikut saja! Aku kesepian karena Cuma King Antonidas yang menemaniku, Ujarku menimpali. Oh, ya. Aku waktu itu juga mengambil secangkir teh hangat yang manis (sama seperti King Antonidas). Malam itu cukup dingin ternyata!

Setelah 15 menit berlalu, akupun (bersama King Antonidas, Uther, dan Jaina dan Mother Nature tentunya ^_^) masuk kembali kedalam Travel, yang akan segera melanjutkan perjalanannya ke Surabaya. Malam itu gelap, dingin, dan berangin. Itu boleh dibilang keajaiban untuk daerah Jawa Timur, kalau kataku. Karena disana memang jarang cuacanya dingin sekali! “Mother Nature! Apa apaan lagi kau ini, hah? Tanah kaulapisi es!” ujarku agak kesal. “Ah, tak apa, Rik. Itu lapisan es khusus yang namanya shrieda da via occulta energia. Yang artinya…” ujar Mother Nature ‘berceramah’. “Ya, ya, sudahlah! Toh aku tidak paham bahasa Dialek latin, Mother Nature.” ujarku menimpali, dan langsung masuk ke Travel. King Antonidas, Jaina dan Uther menyusul. Didalam, setelah Travel mulai berjalan, Uther berkata: “Antonidas (begitu katanya memanggil King Antonidas, karena derajatnya setara dengan King Antonidas), aku merasa aku perlu memberitahu sesuatu padamu.” “Apa yang mau kau beritahukan, Uther? Bicaralah!” timpal King Antonidas sementara aku, Jaina dan Mother Nature terperangah. “Aku mendengar bahwa Arthas akan datang dan membunuhku. Karena tadi aku mengambil Urn of King Terenas dan menyimpannya sampai sekarang.” Ujar Uther. “Lho? Jadi tadi kamu pergi Ke Dalaran toh? Kenapa kita tidak bertemu?” ujar King Antonidas. “Ah, sudahlah! Kita tak usah membahas ini lagi. Toh, kurasa aku mampu melawan Arthas. Dia kan masih pemula, jadi dia juga belum tahu seluk beluk penyerangan agresif. Oh, ya, Antonidas. Aku beberapa hari yang lalu kan pergi ke Lordaeron, nah ternyata Arthas membangun Base Camp (Perkemahan) disana! Lalu kuputuskan untuk memata – matai mereka. Aku menangkap pembicaraan antara Arthas dengan seorang… yah, katakanlah… hantu dan vampir! Ujar Arthas begini… (Bila ada tanda seperti dibawah, itu mungkin berarti aku akan menceritakan bagian lain dari cerita ini atau aku akan mengakhiri bagian lain yang kuceritakan)


So, you need me to Travel to Quel’Thalas, Tichondrius?” ujar Arthas. “Yes. Only the Power of High Elf’s Sunwell can bring Kel’Thuzad back to live. But, I worry about Kel’Thuzad’s Remains. It’s badly decomposed!” ujar Tichondrius agak khawatir. “What’s your command, Dreadlord?” Tanya Arthas. “I need you to retake a very special Urn from Paladin’s keeping. Place Kel’Thuzad’s remains in it, and He will well protected in your journey.” Ujar Tichondrius. Lalu, Arthas menemui dua Paladin yang disebutkan Dreadlord itu tadi, dan membunuh mereka. Lalu aku mendatangi Arthas. “Your Father rule this land for seventeen years, and You aground it in matter of days!” ujarku. “Very dramatic, Uther. Now give me The Urn, and I’ll make sure you die quickly.” Ujar Arthas. “The Urn contains your Father remains, Arthas!!! What, you want to piss on it for last time before you leave this Kingdom to rot?” ujarku kaget. Dan kamipun bertarung habis habisan, namun aku terpaksa menyerah, Antonidas. “I’m hope there are some special place for you in Hell, Arthas.” Ujarku. “We shall see, Uther. I itend to live forever. Ujar Arthas menimpali, lalu dia menghabisiku. Namun, ada yang aneh, Antonidas. Aku merasa kalau aku hidup lagi! Rasanya waktu itu kamulah yang mereviveku.


“Nah, lalu kelanjutannya kamu tahu sendiri, kan, Antonidas?” Tanya Uther. “Iya, Uther. High Elf mereka hancurkan! Dan Sylvanas Windrunner meninggal dan mereka korupsi!!!” ujar King Antonidas. “Dan kabar terbaru, Sylvanas akan menyerang Dalaran!” ujar Uther dengan nada tandas. “Hah? Sylvanas akan menyerang Dalaran? Itu tidak mungkin, Uther!” ujar King Antonidas membantah. Namun mendadak RnÁ datang. “King Antonidas! Sylvanas akan datang malam ini untuk menyerang Dalaran, sedangkan kami semua belum siap! Tolong kami!” ujarnya ketakutan. “Baiklah. Kita lihat saja, apakah Sylvanas tega menyerang tanah kelahirannya sendiri!” ujar King Antonidas, lalu dia melanjutkan: “Sekarang, ayo kita semua pergi ke Dalaran! TE, tunggu kami sebentar, ya?” “Ya, baiklah,” ujar TE menjawab. Kamipun memakai Teleport (Kecuali untuk Uther, karena dia Paladin) untuk dapat segera sampai di Dalaran, namun tepatnya di Gerbang utama. King Antonidas masih merasa yakin kalau Sylvanas tidak akan sampai hati untuk menghabisi Dalaran. Ya, disanalah masa masa kecil Sylvanas yang indah terjadi, dan sejuta kenangan indah lainnya yang sebenarnyapun Sylvanas rasakan sekarang.

Sementara itu, jauh disana, Sylvanas sedang dalam perjalanan menuju Dalaran. “I’m sorry, Arthas. I must betray you” ujar Sylvanas membatin. “Antonidas, you don’t need to worry. I’m still Sylvanas! I will not betray you!” ujar Sylvanas membatin untuk kedua kalinya. Dan hal yang diharapkan King Antonidas di Dalaran benar benar terjadi. “Queen Sylvanas…” ujar King Antonidas. “King Antonidas! Please be quiet! I only acting in front of Arthas! I will not attack my Homeland! I will not Betray you!” ujar Sylvanas, dan dia melanjutkan, “Please, Antonidas, get me out of this curse! I want to lead The High Elf myself! I want kill Arthas as fast as I can!” “Okay, Sylvanas. Erick, what I have said? Sylvanas will not betray her Homeland!” ujar King Antonidas dengan bahasa Inggris.

Nah, lalu kami memanggil Medivh, ayahnya King Antonidas. “Ayah! Masih ingat Sylvanas Windrunner? Dia memerlukan bantuanmu! Dia dikuasai oleh The Scourge dan sekarang dia ingin kembali seperti semula!” ujar King Antonidas. “Baiklah, Antonidas. Cobalah kau ajak Sylvanas ke Fontana de Holy, dan selanjutnya biar papa saja yang mengurus!” ujar Medivh menimpali. Dalam hati aku bersyukur. Baguslah! Sylvanas akan menjadi pemimpin High Elf lagi seperti semula! Ujarku membatin. Nah, kalian yang membaca jangan heran dulu kalau aku sudah mengerti bahasa Dialek kuno. Ya, King Antonidas yang mengajarkannya untukku. Jadi, apapun yang Medivh katakan sekarang, aku tidak perlu bertanya lagi pada King Antonidas. “Medivh, bolehkah aku ikut?” tanyaku pada Medivh menggunakan bahasa Dialek kuno. Awalnya Medivh terheran – heran mendengarku bisa berbicara bahasa Dialek Kuno. Lalu, sembari berbisik bisik dia bertanya pada King Antonidas. “Nak, kamukah yang mengajarinya bahasa Dialek Kuno?” tanyanya. “Iya, ayah. Tidak apa apa, kan?” ujar King Antonidas menimpali. “Iya, kan dengan begitu kita lebih gampang kalau mau bercakap cakap,” ujar Medivh menimpali, tapi tetap dengan berbisik bisik. Lalu, Medivh menjawab pertanyaanku tadi. “Boleh. Nanti disana diam sajalah! Jangan terlalu rebut, nanti ritualnya tidak berhasil, lho.” Ujarnya. “Iya. Ayolah, nanti Arthas keburu datang nih!” ujarku menimpali. “King Antonidas, coba panggil Tyrande sebentar,” ujarku kepada King Antonidas. “Hah? Kenapa, rik?” Tanya King Antonidas. “Anu, suruhlah dia untuk membuat Owl Scout. Nanti, Owl Scout itu akan kusuruh untuk melihat Arthas.” Ujarku menjawab, dan King Antonidas langsung membunyikan Horn of Cenariusnya dua kali. Setelah Tyrande datang, King Antonidas mulai berkata kata: “Tyrande! Coba keluarkan Owl Scoutmu dan suruh dia mendatangi Arthas. Kita akan segera melihat seberapa jauhkah atau seberapa dekatkah Arthas dari Dalaran!” “Baiklah, Antonidas (begitulah Tyrande memanggil King Antonidas, karena derajat mereka sama). Aku akan segera…” ujar Tyrande, namun dia terputus. Apa yang kutakutkan terjadi. Arthas datang! Dan, tepat pula seperti yang sudah kuramalkan bersama King Antonidas, Arthas bertambah kuat dan kejam! (Aku bisa mengetahui hal itu dari fisik Arthas yang bertambah besar) “Wah, bagaimana ini, King Antonidas?” ujarku berbisik bisik, namun memakai bahasa Dialek Kuno. “Ah, kamu jangan khawatir. Aku akan menyuruh Tyrande membunyikan Horn of Cenarius sekali lagi. Dan lihat saja apa yang akan terjadi!” timpal King Antonidas dengan tenang. Lalu terdengarlah suara Horn of Cenarius yang merdu. Dan apa yang terjadi? Ternyata waktu itu aku lupa, tepat di belakang Arthas dan Undead Minionsnya, ada sebuah rumah aneh. Namanya Slumber of Malfurion Stormrage. Dan Slumber itu masih dilindungi oleh banyak pohon. Ternyata, didalam sana masih ada seseorang, yaitu Malfurion sendiri. Setelah Tyrande membunyikan Horn of Cenarius, maka Malfurion langsung bangun dan berkata: “The Horn has sounded, and I have come as promised. I smell a stench of decay and corruption in our lands. That angers me greatly.” Dan dia melanjutkan: “Come forth, you defenders of old! Crush these enemies as you did in age of past!” dengan berwibawa, dia langsung mendatangkan serumpunan pohon yang bisa berjalan dan bisa berbicara! Aku terkejut sekali. “Itu namanya apa, King Antonidas? Kok ada pohon yang bisa berjalan?” tanyaku keheranan. “Itu namanya Treants, rik. Treants bisa berbicara dan berjalan, dan bisa melawan musuh” ujar Tyrande sebelum King Antonidas sempat menjawab, karena King Antonidas sendiri melongo. “I… i.. it.. itt…. itu… ap… apa… Tyrande?” ujar King Antonidas tergagap – gagap, karena dalam kamus kemagiannya tidak ada Spell yang bisa menciptakan Pohon seperti itu. “Tanya sajalah pada Erick” ujar Tyrande. “Apa, itu, rik?” Tanya King Antonidas. “Itu namanya Treants. Dia bisa berjalan dan berbicara...” “dan melawan musuh” sambung Tyrande menyelat. “Iya.” Ujarku menimpali. “Tanyalah pada Malfurion, Antonidas. Apakah kami benar. Kalau memang kami benar, mintalah jampi jampinya padanya. Catatlah di… di…” “Book of Spells, Tyrande” ujarku dan King Antonidas bersamaan. Lalu King Antonidas menimpali, begini katanya: “Baiklah, Tyrande. Aku akan menanyakannya pada Malfurion.” Namun, sebelum kejadian yang agaknya bersejarah itu terjadi, ternyata sebenarnya ada beberapa kejadian beruntun yang menimpa Tyrande dan Night Elf Sentinel. Baiklah, akan kuceritakan untuk kalian…


Setahun yang lalu, di bulan Juli, ada seorang yang berpangkat Demigod. Kekuatannya luar biasa! Namanya Cenarius, dan dia adalah ‘Tuhan’ untuk Night Elf. Namun, baru saja beberapa hari yang lalu dia dibunuh oleh adik pemimpin Orc Horde (maksudku Thrall), yaitu Grom Hellscream. Dia telah dikorupsi oleh The Burning Legion, atau tepatnya oleh seorang Pit Lord bernama Mannoroth. Dia menaruh darahnya di sebuah Fountain of Health yang terletak di Ashenvale Forest, tepatnya di dekat perkemahannya Grom. Dan karena Grom sudah kesal dengan gangguan Night Elf, maka dia memutuskan untuk membunuh ‘Tuhan’ mereka, yaitu si Demigod, Cenarius. Pada waktu Grom Hellscream mendatangi Fountain of Health yang sudah berisi darah (dan namanya berganti menjadi Fountain of Blood), seseorang yang kalau boleh dikatakan Priest berkata padanya: “This Fountain contains great power, but I smell a curse in it” lalu Grom menjawab: “Ah! I’m cursed already! I must drink this water to help me defeat Cenarius!” Lalu Grompun meminumnya, dan terjadilah sesuatu yang mengerikan! Fisiknya membesar, dan warna kulitnya merah! “Yes!!! I feel that power once again! Come my warriors, drink this water, and you will reborn!” ujarnya. Dan memang, dengan air darah itu mereka bisa melawan Cenarius. Namun, secara tidak langsung Grom dan seluruh Warsong Clan bisa diperintah oleh Mannoroth dan The Burning Legion. Sementara itu, Thrall dan kawan lamanya, Cairne Bloodhoof sudah memasuki The Oracle, yang terletak di Stonetalon Peak. Kenapa mereka kesitu? Karena Thrall pernah bermimpi, The Prophet menyuruhnya kesana. Dan setelah Thrall masuk disana, ternyata Jaina juga ada! Hampir saja mereka berduel, kalau tidak dicegah oleh The Prophet. “Stop! There will not a violence in this place!” ujarnya dengan berwibawa. “That sound… You’re not The Oracle, you the Prophet!” ujar Thrall kaget. “That’s right, Son of Durotan.” Dan The Prophetpun melanjutkan: “Thrall, this is Jaina Proudmoore, Leader of Survivors of Lordaeron” “Survivors? What are you talking about?” ujar Thrall kaget untuk kedua kalinya. “Lordareon already fallen, and now The Undead come to Invade Kalimdor! Only here, united against The Shadow, you will able to defeat them! Thrall, your brother Hellscream already fallen into The Demon’s control. Soon, you and Orcish Horde will be cursed forever!” ujar The Prophet dengan berwibawa, namun juga tandas. “No…! I will die before I let that happen!” ujar Thrall kaget untuk ketiga kalinya. “If like that, you must rescue him immediately! However, you will need help. ujar The Prophet lagi. “What…??! You can’t possibly mean to...” “Destiny is at hand, Young Sorceress. For fate of who all live, Humanity must join with Orcish Horde!” ujar The Prophet mengakhiri percakapan waktu itu. Dan Thrall beserta Jaina diam saja, namun mereka menerima. Mereka segera mengirim pasukan ke Ashenvale Forest, tempat Tyrande tinggal. Karena Jaina dan Thrall sendiri masih ada pekerjaan! Pada waktu itu Tyrande sedang berada di atas sebuah bukit yang lumayan tinnginya. Dia melihat kebawah dengan sedih sekaligus khawatir. Shandris, rekannya datang. “Pardon me, Priestess, but you’re starring at Ashenvale for hours!” ujarnya. “I feel something dark stirring within the forests, Shandris. Ujar Tyrande menimpali, dan Shandris menebak, “The Greenskins who killed Cenarius?” ujarnya. “Perhaps. Perhaps something more, ujar Tyrande agak khawatir. Dan dia segera mengirim Owl Scoutnya untuk menelusuri Ashenvale Forest. Dan apa yang Owl Scout temukan? Perkampungan Human dan Orc! “Put your backs on it! Jaina and The Orc Warchief expect this base to built swiftly!” ujar Duke Lionheart, nama Hero yang dipilih Jaina dan Thrall. “Bah! We shouldn’t be here! Or siding with the orc!” ujar salah satu Footman yang ada disana. “We here to cleanse remaining demon, human. You’re lucky our goal is same!” ujar salah satu Grunt. “Okay, man. Mind your business. Back to work!” perintah Duke Lionheart dengan tegas. “So, these wretched human and orc are building base in our lands? They will regret ever stepping foot into Ashenvale. We will construct a base and deal with this outlander as they deserve.” Ujarnya merencanakan. Dan memang itu yang terjadi! Ada beberapa Wisp yang menunggu di dekat sebuah pohon besar yang telah ‘menanami’ Gold Mine yang ada didekatnya dengan pohon pohon. Ujar Tyrande sih, nama pohon itu adalah Tree of Life. Dia harus mengentagle Tambang Emas dulu supaya Wisp dapat bekerja didalamnya. Dan setelah Tyrande merasa dia sudah membuat cukup banyak Reinforcements, diapun segera menyerang Human dan Orc tadi. Dan apalah yang terjadi? Mereka semua (termasuk Tyrande dan Night Elf Sentinel) lari pontang panting akhirnya. Memang, Human dan Orc berhasil dikalahkan, namun apa yang menyebabkan Tyrande dan semua Night Elf Sentinel lari pontang panting? Itu karena ada kejadian lagi! Pada waktu itu, bangunan Human dan Orc sudah nyaris habis, dan orang orangnyapun begitu. Dan mendadak terdengarlah suara tertawa yang menyeramkan, bersama turunnya hujan batu yang berwarna hijau. Dan ketika batu itu sampai di tanah, muncullah Infernal! Hebat sekali, mereka itu besar, berwarna hijau, dan punya ability yang mengerikan! “Come on, Sisters, Back to The Trees! We are in no match for forces in this vast!” ujar Tyrande, lalu dia lari pontang panting. Namun, Tyrande berhasil dikejar. “You see, Lord Archimonde? We do not need to fear The Elves. The Scourge can…” ujar Tichondrius, namun terputus oleh gumaman Tyrande. “Archimonde… After ten thousand years, how can this possible?” lalu, balas Archimonde ”(Suara tertawa) The Legion has returned to consume this world, woman. And this time, your troublesome race will not stop us!” ujarnya sembari bergelagat hendak menyerang Tyrande. Namun beruntung bagi Tyrande, malam datang. Dan kalian perlu tahu, kebanyakan orang Night Elf kebanyakan bisa menghilang (vanish) waktu malam! Dan Tyrandepun segera menghilang. “Fools! You let her slip away! Find her d**n you! Find her, and kill her!” perintah Archimonde dengan kejam, sembari menamatkan riwayat seorang Doom Guard yang mengawalnya. Dan setelah mereka pergi, Tyrande muncul lagi. “The day we have long feared has finally come. The Burning Legion has returned! I must cross the river and warn my sisters before all is lost!” ujarnya tegang. Dan begitulah dibuatnya! Dia juga berusaha untuk sedapat mungkin tidak terlihat oleh Doom Guard yang berjaga jaga disana. Dan ternyata banyak dari kelompok Night Elf Sentinel yang terjebak disana. Sembari berusaha menyebrangi sungai, Tyrande juga menyelamatkan orang orang itu. Beruntunglah Tyrande, karena para Undead sedang lengah. “Mistress! Thank Elune you’ve come! The Undead has attacked us Without warning!” ujar Shandris ketika Tyrande datang. “Elune-Adore, Shandris. We have greater problem. The Undead are sent by The Burning Legion – our ancient enemy of past. Such of that we might only take one option; we must awaken The Druids!” ujarnya.

Nah, maka dari itulah King Antonidas menyuruh Tyrande membunyikan Horn of Cenarius yang dia temukan lama sebelum Tyrande menemukannya. Masih ingat perkataan Tyrande yang,“He! That’s Horn of Cenarius that we searched! What the hell are it doing here?” kan? Nah, waktu itu sebenarnya Tyrande sedang mencari Horn of Cenarius, tapi tidak ketemu. “King Antonidas, sebaiknya kita lekas lekas saja kembali ke TE. Aku sudah tak sabar ingin melanjutkan perjalanan.” Ujarku pada King Antonidas, yang hanya mangap mangap saja melihat kejadian itu. Apa sih anehnya? Ya nantilah kuberitahu, kalau King Antonidas memang sudah kepingin memberitahu. (Ini yang aneh: Menurut King Antonidas, tidak mungkin akan ada orang atau jampi - jampi yang bisa membuat pohon berjalan seperti tadi.)

Sementara itu, TE menunggu dengan sabar. Tahu – tahu dia melihat spirit seseorang. “Itu kelihatannya seperti Demigod yang pernah dibicarakan Erick… (maksudnya, Cenarius), tapi kok rasanya beda ya? Ah, nggak! Itu sama!” ujar TE terperangah. Dan memang, yang dilihatnya itu Cenarius. “Halo, TE!” ujar Cenarius. Demigod Cenarius! Apa yang kamu lakukan disini?” ujar TE. “Aku mencari King Antonidas, Tyrande dan Malfurion” ujar Cenarius memberitahu. “Aku harus menyampaikan sesuatu yang penting!” katanya melanjutkan. “mereka ada di Dalaran, Cenarius. Coba sajalah kau lihat disana.”Ujar TE menimpali. Dan diiringi Holy Teleport, Cenarius menghilang dan segera sampai di dekat King Antonidas. “Cenarius! What are you doing here… are you spirit now?” Tanya King Antonidas kaget (untuk ketiga kalinya di malam itu). “Yes, Antonidas. I must warn you, that Arthas will rescue The Lich King in Frozen land of Northend! You must stop him before The Lich King Arisen! If you late, the only way to defeat him is you must revive me in my Grove! Quick, Antonidas! At least tomorrow you must have a base camp in Northend!” ujar Cenarius. “Wait a second, Cenarius! I must talk to Erick first!” ujarnya. “Rik, ujar Cenarius be..” “Ya, King Antonidas. Tak apa! Kirimlah beberapa peasant lengkap dengan beberapa Musketeer.” Ujarku menyetujui usul Cenarius. “Lha? Musketeer itu apa, Rik?” Tanya King Antonidas. “Musketeer adalah penembak jitu dari Kerajaan Inggris. Aku patut bersyukur karena aku punya teman bernama General George Washington. Dia bisa membantumu! Paling lambat sejam lagi kalian akan mendapat sekelompok besar Musketeer! Aku jamin!” ujarku. Dan detik itu pula, aku segera menelepon General George Washington. “General? Can I speak a bit, sir? Yes, it is I, Erick. I need a large reinforcement of Musketeer! Can you spare some Musketeer to us?” tanyaku. “Of course I can, Erick. Wait 1 hour. I’m sure My Imperial Redcoats will arrive in Dalaran in time, ujar George Washington. Dan karena menurutku satu jam itu terlalu lama, maka aku membalas, “Sir, may I take them by myself? That will speed up the delivering time, ujarku. “It’s okay. I hope you can do as you say, Erick.” Ujar George Washington. Akupun segera meneleport diriku sendiri ke Inggris. Disana, ternyata George Washington menepati janjinya. Dia mempersiapkan banyak sekali Musketeer! Dan hanya dengan menggunakan Teleport sekali lagi, semua Musketeer (atau tepatnya Imperial Redcoats) dan aku sendiripun segera sampai di Dalaran. “Wah, rik! Mereka ini kelihatan gagah sekali!” ujar King Antonidas kaget lagi. “What does he say, Erick?” ujar salah satu Musketeer. “He says that you all are gentleman, Timpalku. Dan mendadak, mereka semua bersorak sorai! “Hooray! General George Washington come!” ujar mereka. Dan di kejauhan tampaklah General George Washington sedang berjalan ke dekatku diiringi dua Musketeer. “Erick! I think you will need me to help King Antonidas’s problem. Can we help?” Tanya George Washington. “Hah? Apa katanya, rik?” Tanya King Antonidas. (dalam hal ini, kayaknya King Antonidas pura – pura nggak ngerti bahasa Inggris deh) “Dia berkata bahwa dia datang kemari untuk menolongmu, King Antonidas. Apakah dia bisa membantu?” ujarku menerjemahkan. “Ehm... Of course I can use your help, General. I need you to escort these peasants into The Frozen Land of Northend. There, you must command these entire peasant to build proper base. I hope in Northend, there are many resources.” Ujar King Antonidas mulai berceloteh. Lho? Katanya tadi dia tidak bisa bahasa Inggris? Kok sekarang dia malah berceloteh dalam bahasa itu? King Antonidas mengedipkan matanya padaku. Ah, King Antonidas ini. Rupanya dia hanya mengetesku, apakah aku bisa bahasa Inggris. Dan sekarang dia tahu, bahwa aku bisa!

Dan detik itu pula, George Washington segera berangkat, setelah sebelumnya dia berkata: “Yes, sir! I hope so. I’m sure, tomorrow you will see a large base with its armies!” ujar General George Washington. Dan dia segera memasuki Waygate yang sudah disediakan King Antonidas. Ajaib! Begitu semua Musketeer, Peasants, dan George Washington masuk, mereka langsung sampai di Northend! Dan, sesuai yang sudah diperintahkan King Antonidas, George Washington langsung membuat perkemahan disana. Arthas pada mulanya heran. “Anub’arak, look! Those looks like human, but the leader is not Antonidas…” ujar Arthas terheran heran. “Oh, my! They can halt us in reactivate those Enhanced Obelisks!” ujar Anub’arak, seekor binatang yang juga “Pahlawan” yang juga membantu Arthas pada waktu dia dilawan Kael dan Blood Elves. Nah, itulah kenapa Arthas sudah punya Perkemahan di dekat Icecrown Glacier. Untung saja George Washington baru mengetahuinya setelah dia meninggalkan perkemahan. Kalau tidak, mungkin dia akan terlambat untuk mencegah penyerangan Arthas. Lalu, King Antonidas datang, dengan Teleport, membawa Jaina. Dan juga Cenarius yang dalam rupa spirit. “I will give direction to you, Antonidas. I also have warned Malfurion about this, with the help of Mother Nature” ujar Cenarius panjang lebar. Dan memang, Malfurion pada waktu itu…

… Sedang berada di Loraderon, untuk bertemu dengan Mother Nature. “Tyrande, Maiev, I must commune with nature itself. I feel that this nature land has been disappointed of itself. ujar Malfurion yang datang ke Loraderon bersama Tyrande dan Maiev. Lalu, diapun segera masuk kedalam hutan dengan melalui sebuah jalur menembus pepohonan yang sengaja dibuat untuknya. Di dalam, mendadak terjadilah gempa! “I beg your pardon, Spirit of Ancient Nature, please show me what hidden from my sight! Please show me what make earth angry!” ujar Malfurion berseru seru. Dan mendadak ada 4 Ancient Spirit of Mother Nature yang akan menunjukkan apa yang terjadi. Dan ternyata…
(Bila ada dua baris penahan seperti dibawah ini, itu tandanya aku akan menjelaskan bagian special dari suatu bagian khusus cerita ini)


“I see The Frozen Land of Northend, the very Roof of the world! I see that land is being asunder and crushed!” ujar Malfurion. “What the hell is such devastation? Who is making this?” ujar Malfurion terheran heran. Dan diapun melihat sesuatu lagi, yaitu… “Illidan! I have to prevent him!” ujar Malfurion.


“Thank you, Mother Nature. I promise you - this accident will not be ignored!” ujar Malfurion sekali lagi, sambil beranjak dari tempat itu. Dan begitulah, akhirnya Malfurionpun menyerang Illidan, adiknya sendiri.

Sementara itu, aku sudah masuk di Travel. Ujar King Antonidas, “Bila dalam lima menit aku belum datang, tinggallah aku! Aku akan menyusul nanti.” Nah, memang sih setelah lima menit dia tidak datang, namun, setelah aku menoleh sekali lagi untuk meyakinkan, dia datang! “King Antonidas! Akhirnya kau datang juga! Ini sudah enam menit!” ujarku. “Ya kan tidak apa apa, toh. Bagiku, enam menit dunia sama dengan enam jam di dunianya Dalaran.” Ujar King Antonidas memaparkan. “Oh… ya sudah kalau begitu. Masalah ini tidak perlu diperpanjang lagi, toh cuma masalah kecil. He, ngomong ngomong kenapa rasanya dari tadi jamnya tidak berubah, ya?” ujarku menimpali. “Oh, itu karena kami di Dalaran bisa membekukan waktu, sehingga tidak akan berjalan. Namun, kamu tidak perlu khawatir, itu hanya sebuah kepercayaan konyol yang ternyata salah. Tadi memang waktu berjalan, rik, namun sekarang sebenarnya waktu sedang kuundur ^_^”

Perjalanan ‘bersejarah’ itupun kulanjutkan. Nah, apanya yang bersejarah? PEMANDANGANNYA! Ya, kalian tidak salah baca. Pemandangannya! Mother Nature menanami tanah tanah yang kulewati dengan pepohonan indah dan bebungaan segar. “Memang sengaja kutanami, rik. Agar kamu benar benar menyadari, bahwa perjalanan ini adalah perjalanan yang bersejarah bagimu,” ujar Mother Nature. Dan memang, itulah satu satunya perjalanan yang tidak kulupakan dalam hidupku. Kamipun terdiam. “Nikmatilah perjalanan ini, dan santailah sedikit! Masakan kau harus melaksanakan ‘gerak jalan’  terus menerus sekarang ini, heh? Masakan kau harus duduk tegak dan berbicara dengan nada ‘tegas’ terus menerus? Kan ada waktunya kamu untuk bersantai - santai sedikit,” ujar Mother Nature menegurku. Lalu aku kembali terdiam. Perlahan lahan kucerna apa perkataan Mother Nature. Memang benar katanya, pikirku. Aku akhir akhir ini terlalu sering berperang membantu King Antonidas dan baru saja beberapa hari sebelum penerimaan raport kenaikanku aku menolong General George Washington dalam masa Kekolonialismenya. Pada zaman itu, yang namanya Musketeer sangatlah mahal, dan karena itulah General Washington memutuskan untuk membuat reinforcements yang sejenis dengan Musketeer, yaitu Colonial Militia. Colonial Militia banyak menolong George Washington dan rekannya, Nathaniel Black. Namun sekarang, yang namanya Musketeer itu murah sekali, jadi sudah umum. Lantas, detik itu pula aku langsung santai. Mother Nature senang melihatnya.

Lalu, ternyata kami menaiki sebuah bukit. Seketika itu juga aku terheran heran. “Pasti ini Bukit Paiton, King Antonidas!” ujarku pada King Antonidas yang sedang bersiap siap tidur. “Ya, rik. Tapi aku mau tidur. Jadi, tenanglah!” ujar King Antonidas menimpali. Sementara King Antonidas tertidur, aku sedang terdiam, menunggu sampai Paiton menunjukkan dirinya. Dan seketika itu, aku bisa melihat Aurora kekuning kuningan nun jauh disana (walaupun tidak terlalu jauh ^_^) dan lalu aku bisa melihat Paiton! Dia tampak gagah, dengan lampu lampu yang indah dan Aurora yang ‘wah’ sekali. Namun, dibalik semua yang kukatakan itu, ternyata Paiton sedang bersedih. “Ada apa, Paiton? Kenapa, kok dungaren (kebetulan) kamu sedih?” ujarku. “Ah, tak apa, Rik. Aku hanya kesepian. Kalau bisa, temanilah aku disini, Rik.” Ujar Paiton agak sedih. “Maaf, Paiton. Aku sebenarnya ingin menemanimu, namun aku tidak bisa,” ujarku. “Ah, siapa bilang? Pasti bisa! Sebentar,” ujar Mother Nature menimpali. Apa yang terjadi? Ternyata Mother Nature menyambar mesin diesel milik TE dengan petir! Seketika itu TE langsung berhenti, dan langsung saja dia mengomel omel. “Apa apaan kau ini, Mother Nature! Kausambar mesinku yang bagus ini dengan petirmu itu! Apa maksudmu, hah?!!” lalu timpal Mother Nature: “Aku hanya ingin agar E…” “Sudah, CUKUP! Apakah kalian tidak bisa melihat kalau Paiton sedang bersedih? Apakah kalian tidak bisa merasakan perasaan Paiton, hah?” ujarku menyelat, sebelum Mother Nature selesai dengan perkataanya. “Mother Nature, kenapa kau menyambar TE? Untung aku dan King Antonidas beserta beberapa orang didalam TE tidak kesetrum. Kalau kesetrum, tamatlah riwayat kita! Dan TE, mesinmu pasti rusak. Nanti biar kusuruh King Antonidas saja yang memperbaiki agar kita bisa melanjutkan perjalanan.” Ujarku panjang lebar. King Antonidas sampai terbangun jadinya. Huahhhmmmm… He, apa apaan ini? Kok kalian berdua betengkar?” ujar King Antonidas dengan heran. “Paiton, bagaimana kabarmu? Kamu baik baik saja?” Tanya King Antonidas. “Ya, King Antonidas. Semua baik baik saja, hanya saja aku kesepian. Tapi aku juga senang, karena kalian sudah mau menemaniku.” Ujar Paiton dengan agak senang. “King Antonidas, ayo kita turun dulu!” ujarku. “Lha untuk apa, rik?” ujar King Antonidas heran. “Bukannya tadi kamu bilang kita tidak punya waktu?” ujarnya lagi. “Iya sih, tapi aku barusan saja mau meralat perkataanku! King Antonidas, aku mengajakmu keluar karena aku berpendapat kita bisa piknik sebentar disini. Ada meja tidak?” ujarku sembari bertanya. “Tidak. Ah, sudahlah! Kita berpiknik di tanah saja. Toh kan kita tetap bisa menikmati suasananya.” Ujar King Antonidas. “Ya, baiklah kalau begitu. Ayo kita duduk! Untuk aku membawa persediaan makanan dan minuman di Fuzzy Logic Picnic Basket kepunyaanku, King Antonidas. Jadi kita bisa menyantapnya sekarang. Ayo, kita keluarkan! Teh ini biar aku saja yang menuangkan, King Antonidas. Kamu ambil saja yang itu, lalu itu, dan…” ujarku panjang lebar. Lalu kami langsung makan dan minum sembari bersenda gurau dengan Paiton. Kami berdua menikmati makanan yang sama, yaitu Cereale Imperiale dan Biskuit khas Dalaran (entah apa namanya, karena King Antonidas belum memberinya nama. Jadi ya kunamai saja Biskuit khas Dalaran). Setelah beberapa menit, Paitonpun berkata, “Rik, King Antonidas. Sebaiknya kalian cepat berangkat! Ini sudah hampir jam setengah satu! Aku sudah cukup senang kok, kalian bisa berpiknik dan mengobrol denganku. Sekarang lekaslah berangkat! Aku tidak mau perjalananmu ‘molor’ nanti!” “Baiklah, Paiton. Kami akan segera berangkat.” Ujarku menimpali. Setelah meringkasi Keranjang Piknikku, kamipun masuk kembali kedalam TE. (yang ternyata sudah dibetulkan.)

Perjalananpun kami lanjutkan. Tak terasa, sudah hampir jam satu subuh. Perasaankupun mulai tak karuan. “Aku yakin, dalam beberapa jam lagi kita akan sampai di Surabaya. Aku yakin!” ujarku dalam hati. Tak ada yang mengetahui perasaanku, karena memang mereka semua sudah kesirep alias tertidur, khususnya untuk King Antonidas. “Nah lho, rupanya King Antonidas kecapekan ini,” ujarku dalam hati. Walaupun kalian tidak melihat satu katapun yang menunjukkan aku ‘capek’, sebenarnya aku lelah sekali. Namun tetap saja kupaksakan diriku untuk menikmati perjalanan ini, dan jangan sampai tertidur.

Waktupun berlalu. Banyak pemandangan indah yang kulihat, dan itu menghiburku. Sudah jam tiga subuh. Nah, aku mulai lagi ndredegnya. Habis ini pasti jalan tol ke Surabaya kulewati, batinku berkata. Dan benarlah! Beberapa saat kemudian, aku melihat jalan tol didepan, banyak lampu lampu kuning yang lumayan banyak. Seketika itu aku langsung teringat pada Paiton. “Ah, Paiton kan sudah berlalu! Masak kupikirkan terus sih,” ujarku sembari melihati anak – anakku dan King Antonidas beserta Mother Nature yang sedang tertidur. Sangking senangnya, aku sampai bernyanyi dua lagu yang kukarang, yaitu “Surabaya, nantilah kedatanganku” dan “Surabaya, Surabaya”, lalu aku juga menyanyi “Bandung selatan di waktu malam”. Sangking merdunya suaraku, mamaku yang dirumah bisa mendengarnya. “Erick, Erick. Sukanya menyanyi saja kalau lagi senang,” ujar mamaku dirumah. King Antonidas terbangun lagi karena aku menyanyi lagu itu, namun dia segera tertidur lagi. Hah, kasihan si Holy Magus itu! Pekerjaanya dari pagi sampai malam saja sudah cukup banyak, apalagi sekarang perjalanan semalaman penuh. Wah, klepek – klepek dia nanti jadinya!

Tapi baru saja King Antonidas tertidur, dia bangun lagi. “Rik, aku baru keingatan sesuatu. Pada waktu kematianku setelah penyerangan Arthas yang kedua, para orang di Dalaran membuat “Antonidas Memorial” untuk mengingatku. Ini fotonya:”
4. Antonidas memorial, sebuah patung ajaib yang memegang Orb of Frost dan Archus (tiruan). Dibuat oleh rakyat Dalaran untuk mengenang akan King Antonidas, Raja terbesar yang membuat Dalaran memasuki masa keemasannya.
“Bagus kan? Aku sendiri heran waktu melihatnya. Ada relief yang menuliskan sesuatu, yang dari Jaina! Ini fotonya: (kami di Dalaran sudah mengetahui banyak Teknologi, jadi jangan heran ya,) dan sambil kamu lihat, rik, aku mau melakukan sesuatu sebentar.
5. King Antonidas's Memorial Paragraph. Sebenarnya paragraf – paragraf teks ini diukir oleh Jaina, namun King Antonidas melihat bahwa teks itu diukir di batu nisan di bawah King Antonidas Memorial. Jadi teks itu juga dianggap sebagai kepunyaannya.
“Nah, barusan yang kulakukan adalah bertelepati dengan Nanacacipactzin dan RnÁ, ujar mereka ada hal yang aneh! Dalaran serasa terbang ke atas! Setelah diteliti, ternyata ada kekuatan yang membuatnya bisa terbang, dan diperkirakan dalam beberapa hari lagi Dalaran akan menjadi kota yang melayang layang! Aku sampai bingung jadinya! Dan seandainya kami tak bisa membuat tali yang cukup kuat untuk menahan Dalaran, diperkirakan kalau Dalaran akan berpindah ke Northend! Dan bila tanah bekas Dalaran ditinggalkan, akan ada Aura yang akan melindungi tanah bekas Dalaran, sampai waktunya untuk Dalaran kembali ke sana. Diperkirakan sekitar Magical Age 2010 alias Tahun 2014! Walah walah!” ujar King Antonidas panjang lebar, dan akupun menimpali, begini ujarku: “Jadi, maksud Jaina dengan surat ini adalah:”


Archmage Antonidas, Pemimpin Besar Magus Kirin Tor

Kota besar Dalaran berdiri sekali lagi - bukti untuk kegigihan dan keinginan akan anak yang terbesar.

Pengorbananmu tak akan sia sia, teman terbaikku.

Dengan Cinta dan Kehormatan,

Jaina Proudmoore

“Kan? Rupanya Jaina tidak sekedar menganggapmu sebagai guru, King Antonidas. Dia juga menganggapmu sebagai teman terbaiknya!” ujarku melanjutkan. Oalah dalah… Nasibku merana ini. Moga moga Dalaran tidak terbang dulu sebelum aku datang,” kata King Antonidas. Tapi ternyata, Dalaran terbang lebih cepat daripada yang diperkirakan Nanacacipactzin, RnÁ dan King Antonidas. Malam itu juga, Dalaran sudah tercabut dari tanah! “King Antonidas!” ujar Nanacacipactzin melalui Telepati. “Dalaran sudah terbang, King Antonidas! Dan kami melihat ada Aura ungu di bawah tempat Dalaran tadi berada!” ujarnya melanjutkan.“Wah, gawat itu! Sekarang, kalian semua persiapkan satu Goblin Zeppelin dan segeralah menyusulku di Travel TE. Ciri cirinya: Ada Permata besar diatas Travel ini, warnanya ungu seperti warna nasional kita, dan fisiknya yang paling besar diantara Travel travel sejenis. Setelah kalian menemukan Travel ini, tancapkan tali pemancang di bagian atas Travel TE, dan diamlah saja. Nanti di Surabaya kita akan membicarakan masalah ini.” Ujar King Antonidas memberi komando secara cepat, bijaksana, namun tegas. Baru saja King Antonidas selesai mengomando, eh kok ternyata Goblin Zeppelinnya sudah datang. Ada suara ‘cleb’ alias suara tancapan tali di atas. “Nah, sekarang barulah aku bisa tenang,” kata King Antonidas. Dan setelah itu, kamipun mulai santai.

Sudah jam setengah empat pagi. Aku heran, kenapa kami kok belum melihat pemandangan indah dari Surabaya. “King Antonidas… Lho? Kemana King Antonidas?” ujarku heran sembari menoleh. “Rik! Rik! RIK! HOI, RIK! AKU DIATAS!!!” ujar King Antonidas. “Hah? Kamu lagi ngapain diatas sana, King Antonidas?” ujarku menimpali teriakan King Antonidas (yang agaknya membuatku kaget). “AKU LAGI MENEMANI PENDUDUK DALARAN!!!” Ujar King Antonidas berteriak. Memang kalian perlu tahu, bahwa King Antonidas adalah Raja pertama yang mendapat penghargaan “The King that spent most of his time for socializing” karena King Antonidas kerap kali keluar istana hanya untuk bermain dengan anak anak rakyat, dan bersosialisasi dengan penduduk Dalaran.

Dan, setelah perjalanan yang lama itu, akhirnya keluarlah aku dari jalan tol dan bisalah kulihat Entrance (Jalan Masuk) dari Kota Surabaya. Wah… pemandangannya indah sekali. Lampu Hotel SOMERSET masih terang benderang. Lampu toko HARTONO masih tak padam jua. Lantas aku menjerit sekeras kerasnya (sampai King Antonidas, Mother Nature dan Antonidas, bantalku, dan Kael, Ikan Hiuku kaget) “SURABAYA~! AKHIRNYA AKU TIBA JUGA~!” Dan, akhirnya petualanganku di Surabaya benar benar dimulai~!














Chapter 2: Petualangan di Surabaya, dengan King Antonidas!

Aku senang sekali. Setelah banyak kejadian tegang, Akhirnya tibalah aku di Suarabaya! Mamaku yang dirumah juga ikut senang. Nah, mungkin kalian akan heran bagaimana mamaku bisa mengetahui keadaanku. Dia mempunyai satu Pedestal yang sama seperti punyaku. Itulah yang dipakainya untuk melihat keadaanku dan bercakap cakap padaku. King Antonidas masih saja diatas, bersama para penduduk Dalaran. Dan yang lupa kukatakan, bahwa ternyata Goblin Zeppelin yang dimaksudkan King Antonidas adalah semacam Pesawat yang besar sekali! Mungkin kalau boleh dikatakan, Zeppelin itu sejenis Kota yang terbang, lumayan besar ukurannya, dan tertutup. Hebat juga King Antonidas ini, pikirku. Semua benda ciptaan dan karyanya dipersembahkan hanya untuk rakyatnya tercinta!

Namun, yang patut disayangkan, yaitu bahwa ternyata pengantaran bagian Darmo Hill (yang ekslusif itu, yang indah itu, dan sing ijo iku ^_^) tidak diprioritaskan, alias aku hampir yang terakhir! Namun, dari keterlambatan itu aku mengambil enaknya juga, sih ^_^, yaitu aku bisa melihat lihat sebentar apa isi Goblin Zeppelin itu. Wah, ternyata Zeppelin itu hampir sama dengan Dalaran itu sendiri! King Antonidas sendiri sedang duduk duduk di dekat tiruan Antonidas Memorial. “Lho, King Antonidas? Kok ada tiruan Memorialmu?” ujarku bertanya. “Anu, rik. Ini sengaja kuminta buatkan, namun namanya bukan Antonidas memorial. Kau lihat, ini adalah Memorial untuk mengingat ayahku, Medivh. Lihatlah, bahwa wajahnya tidak sama sepertiku, dan, dalam Memorial ini Medivh tidak memegang Orb of Frost sepertiku, tapi dia memegang tongkatnya sendiri, yaitu Atiesh, The Greatstaff of Guardian. Aku sebenarnya ingin mempunyai Atiesh, namun itu kan kepunyaan ayahku sendiri. Jadi kupikir, Archus saja sudah cukup, karena Archus adalah The Greatstaff of Great Magus, Antonidas. Hehe, itulah nama tongkatku yang kupakai sekarang ^_^.” Ujar King Antonidas dengan tersenyum – senyum sendiri. Namun, tak lama kemudian aku turun, karena Mother Nature memberi tanda di Pedestal yang kuletakkan di dekatku. Biasanya, itu tanda peringatan, makanya aku langsung lekas lekas turun bersama King Antonidas. Ah, ternyata sebentar lagi kami akan memasuki Darmo Hill, jadi aku dan King Antonidas dan seluruh penduduk Dalaran disuruh bersiap siap. King Antonidas memerintahkan RnÁ dan Nanacacipactzin untuk mengambil alih Komando Zeppelin itu dan mencopot tali penancapnya serta mengarahkannya ke Darmo Hill, blok F nomor 5. Dan lalu King Antonidas sendiri langsung membaca serentetan jampi jampi di Summoning Room. “Ada apa, ya?” ujarku dengan heran. Tapi tak lama kemudian King Antonidas keluar. “Huff, leganya” ujar King Antonidas menggumam. “Tak lama lagi, pasti akan kunikmati sebuah es krim Magnum Classic baru, es krim vanilla yang lembut, dilapisi Belgian Chocolate berkualitas yang tebal dan renyah. Hmmm…” gumam King Antonidas.

Nah, tapi aku tidak tahu maksudnya apa. Masakan makan es krim saja harus dibuat  dulu? Kan bisa langsung pesan! Rupanya, ada yang disembunyikan ini, batinku. Tapi, biarlah! Masakan King Antonidas harus memberitahuku setiap hal yang akan dilaksanakannya? Itu waktu jaman penjajahan, mungkin! “King Antonidas, aku punya sesuatu untukmu” ujarku senang. “Apa, rik?” ujar King Antonidas. “Kami di Dalaran sudah memutuskan untuk memberikan hadiah untukmu, King Antonidas. Ini yang kami persembahkan: King Antonidas Dalaran Gold Ultimate Phone Series! (Diiringi suara terompet dari belakang)” ujarku, sembari menunjukkan sebuah Handphone yang sangat mewah. Dilapisi emas sebesar 25 karat, juga lapisan cat hitam glossy yang menampakkan citra ekslusif yang memang kesukaan King Antonidas. Dilengkapi kamera beresolusi tinggi (Megapixelnya tidak terbatas, begitupula untuk pembesarannya, jadi King Antonidas enak nanti kalau mau memfoto Dalaran), fitur fitur menarik yang semuanya dipaket dalam sebuah HP multifungsi. Malahan, ujar RnÁ, baterai untuk HP ini adalah HP juga! Kalau mau, bisa ditambah generator kecil didalam mesinnya agar tidak mati. Suplai baterai cadangannya saja 100 buah!!! Aku yakin, King Antonidas pasti suka dengan HP ini. “WAH! Terimakasih, semua!” ujar King Antonidas.

Mendadak, ada suara bel yang sangat keras sekali. Tak terasa jantungku mulai berdetak cepat lagi. Tak kusadari bahwa aku begitu terburu buru turun, sampai King Antonidas tidak menyadarinya. “Rik, maka… lha? Oh, Erick sudah keluar toh. Hah? Kita sudah sampai? Cepat sekali!!!” ujar King Antonidas heran. Dan diapun segera turun. Penduduk Dalaran malah sudah bersiap siap untuk membangun perkemahan kecil di depan rumah Amaku (Ama=Nenek). “Lha? Siapa yang menyuruh kalian untuk bersiap siap membangun? Kan kita punya Dalaran yang terbang……” ujar King Antonidas terputus, karena baru saja Dalaran dibicarakan, ternyata malah sekarang Kota itu terbang tepat diatas kepala King Antonidas! “RnÁ! Lekas, tancapkan tali itu di keempat titik bawah Dalaran, lalu tancapkan di sana! Jangan sampai dia kabur ke tempat lain!” ujar King Antonidas sembari menunjuk ke halaman sebelah rumah Amaku. Dan itulah yang dilakukan RnÁ dan Nanacacipactzin secara langsung. “CLEB!!!” satu tali tertancap. Gerak Dalaranpun langsung terhenti. “CLEBB! CLEBB! CLEBB!!!!” banyak tali tertancap di tanah. Dan Dalaran segera diam tak bergerak. “Hah, selesai juga masalah ini” ujar King Antonidas. Lalu TE angkat bicara. “Rik, King Antonidas, aku akan pergi sekarang. Jaga diri baik baik ya!” ujarnya dengan nada sedih. Langsung saja, cahaya berkilauan yang dipantulkan lapisan emasnya itu meredup. Sekejap kemudian, seluruh hiasan hiasan yang ada di TE sudah hilang entah kemana, begitupula dengan kursi VVIPnya. Badannya yang gagah perkasa nan besar itupun menghilang, berikut summoning room. Dan diapun segera pergi. Hatiku serasa teriris iris, melihat semua itu. Namun, mau bagaimana lagi? Aku sudah sampai, dan itu artinya TE harus kembali mengantarkan beberapa penumpang lainnya dan baru setelah itu dia baru bisa kembali ke pangkalan. Setelah itu, amaku segera keluar dan mendatangiku dan King Antonidas. Dan Ama langsung saja menyuruhku istirahat sebentar. Ha, lumayan atuh!

King Antonidas juga ikut istirahat. “Lha terus bagaimana dengan kudamu, King Antonidas?” tanyaku, karena kudanya King Antonidas kan tidak mungkin bisa masuk kedalam rumah amaku. “Ah, kudaku kan bisa tidur di luar. Iya, maksudku di halaman rumah nenekmu ini. Nanti akan kubangunkan sebuah kandang di depan sana. Nggak usah besar besar, yang kecilpun tak apa. Nanti, kalau rumputnya sudah habis, akan kusuruh beberapa pekerja Dalaran untuk mengambil rumput dari halaman sebelah dan menanami rumput disini,” ujar King Antonidas. Dan setelah itu, kamipun istirahat.

Jam setengah tujuh pagi. Aku sudah bangun, begitu pula King Antonidas. “Enak tidurnya, King Antonidas?” tanyaku sembari menyapa Ii Sianny. “Halo, nyo” ujar ii Sianny yang sukanya manggil aku “nyo” ^_^. “Cepetan mandi, habis ini langsung sarapan. Itu di meja sudah ada sarapan kesukaanmu. Oh, King Antonidas, di meja juga ada makanan kesukaanmu kok. Jadi nggak usah khawatir.” Ujar ii Sianny. Memang, sarapanku pagi itu lumayan, kalau kataku. Ada telur mata sapi bumbu Bali, Nasi goreng, dan kalau tidak salah beberapa biji sosis hangat. “Ha, pasti kenyang aku nanti,” ujarku membatin. King Antonidas tampaknya juga sangat senang, karena dia melihat Cereale Imperiale semangkuk penuh. “Lha bagaimana untuk Uther dan Jaina, King Antonidas?” tanyaku. “Ah, Uther dan Jaina pasti makan bersama penduduk Dalaran. Kamu nggak usah khawatir, Rik.”Ujar King Antonidas menimpali.

Hampir 15 menit kuhabiskan hanya untuk mandi dan makan. Rekor yang lumayan kan? (mustinya sih, itu masuk di MURI ^_^) Kamipun segera berangkat ke GKT Citraraya di Surabaya, menggunakan mobil Panther yang tua, kepunyaan Ii Sianny (Ii=Bibi). Kata ii Sianny sih, lokasi gerejanya berubah. Namun, ya kulihat sajalah nanti! Yang aku lupa adalah, King Antonidas beragama Kristen! Jadi dia bisa ikut aku ke gereja. Nah, ternyata benar kata Ii Sianny. Lokasinya berubah, dan ternyata malah menjadi lebih kecil. Namun, tak apalah! Toh walaupun kecil, tetap saja bagus dan sudah cukup untuk tempat Ibadah. Jadi kecil – kecil cabe rawit ^_^.

Didalam, aku mendapat warm welcome greeting alias sambutan hangat. Banyak yang rindu padaku. Namun mereka juga menyambut anggota baru, yaitu King Antonidas. “Suatu kehormatan bagi kami untuk menerima anda menjadi anggota GKT Citraraya.” Ujar Muse, Pendeta dan sekaligus pemimpin GKT Citraraya. “Ah, anda tak usah berbicara seperti itu. Kan saya ini juga manusia biasa toh, yang mestinya dihormati itu kan Tuhan.” Ujar King Antonidas dengan sopan. Aku senang melihatnya. Dan beberapa detik kemudian aku terkejut, karena semua penduduk Dalaran datang ke gereja dengan menggunakan Dalaran. “Lho? Kok malah Dalaran yang dipakai? Gimana toh ini, King Antonidas?” ujarku. “Lha iya ya, gimana toh Nanacacipactzin dan RnÁ ini?” ujar King Antonidas sembari melanjutkan. “Oh, mungkin maksud mereka adalah mereka akan mengadakan upacara komersil kudus di GKT Dalaran. Tapi mereka juga akan mengikuti kegiatan dari GKT Citraraya ini. Walah walah!” katanya dengan heran.

Kebaktianpun dimulai. Namun, ada kejutan rupanya. Selesai berdoa untuk firman Tuhan, Pak Pendeta maju ke panggung. “Untuk Firman Tuhan kali ini, saya ingin memanggil seseorang untuk maju ke depan. Saya akan menunjuk………. Ah, anak kecil itu! Ya, yang berkacamata itu!” ujarnya sembari menunjukku. Waduh! Bagimana ini. Sembari gemetaran, akupun maju ke depan. “Namamu siapa, dik?” Tanya pendeta itu. “Erick” timpalku gelagapan. “Nah, sekarang kamu baca yang ini ya, lalu yang ini, yang ini… dan yang ini. Nanti kamu bisa kan memberikan sedikit komentar untuk topik ini? Lalu, nanti juga berilah pertanyaan, yang ada di halaman ini… lalu di sini, dan disini. Oke?” ujar Pak Pendeta itu panjang lebar. “I… i... iya” ujarku gemetaran. Sementara itu, ternyata Pak Pendeta itu malah memanggilku ke belakang. “Nah, sekarang kenakan baju ini. Ini baju pendeta yang sering dipakai dalam pesta kostum. Mungkin ini dapat memberikan rasa “Pendeta” padamu.” Ujarnya lagi. “Iya, pak,” Ujarku. Dan setelah itu, mulailah aku ‘beraksi’. “Maka dari itu, pada kisah ini dise…” ceramahku. “Dan sekarang saya akan memberikan sejumlah pertanyaan yang ada hubungannya dengan isi Firman Tuhan ini dan dengan kehidupan sehari hari. Pertama, apa yang…” Ujarku memberi pertanyaan. King Antonidas di belakang langsung menjawab. “Kita harus sering berbakti…” ujarnya panjang lebar. Dan begitulah, satu per satu dari mereka yang bisapun menjawabku. Selesai kebaktian, akupun keluar sambil tetap memakai Jubah ‘ku’. Dan ternyata, diluar disediakan Dalaran’s Classical Tea! Aku terkejut sekali waktu mengetahuinya. Lha habis, darimana mereka bisa mengetahui resepnya? Kan Cuma aku dan King Antonidas yang tahu. “Rik, kamu jangan heran, tadi aku sempat menyelinap keluar, untuk memberikan ramuan Teh kita yang lezatnya minta ampun itu. Agar mereka semua tahu, bahwa teh kta memang benar benar dibuat dengan bahan berkualitas.” Ujar King Antonidas berbisik bisik. “Ya ampun! Jadi rupanya kamu toh yang membeberkan resepnya Teh itu! Tapi ya tak apa sih… Toh kan semua orang berhak mencicipi teh kita yang lezat itu. Lha tapi kok dari awal aku tahu resep dan rasa teh ini, kamu kok terus bilang kalau ini resep yang buat aku dan kamu? Kan rasanya aku tidak ikut ikut, kan?” ujarku panjang lebar. “Ya, aku tahu kalau kamu nggak ikut ikut membuat resepnya, namun pendahulumu, rik.” Ujar King Antonidas menjelaskan. “Lha tapi siapa? Seingatku hanya ada King Antonius, King Leonidas, dan The High Knight Larnosvich. Siapa dari mereka yang membuat resep itu, King Antonidas?” ujarku termangap – mangap. “Masih ada, rik! Masakan kamu tak ingat!!!” ujar King Antonidas. “Hmm… siapa ya?” gumamku dengan tetap heran. “Ah! Jangan jangan maksudmu si Helene von Blumental ya?” ujarku menebak. “Ya! Eh, bukan! Itu kan nama nenek tua yang pernah menjadi teman seperjalanannya Lima sekawan? Itu lho, namanya kalau tidak salah…… Arathir! Ya, Arathir!” Ujar King Antonidas menimpali. Ah, jadi sebenarnya dia toh, pikirku. “Ya, King Antonidas. Memang kalau melihat kepintarannya, mungkin saja dia dan kamu yang membuat resep teh itu. Tapi, masakan pada jaman itu kamu sudah lahir?” ujarku. “Belum, sih ^_^. Tapi pendahuluku yang membuatnya. Namanya Medivh” ujarnya. “Hah? Medivh? Jadi dia toh pencipta resep teh yang lezat ini. Walah walah!” ujarku terkejut. Sembari minum teh itu, aku juga menyantap beberapa kue. Dan ternyata, untuk kejadian langka ini, (yang langka yaitu kedatanganku dan King Antonidas)  telah tersedia satu es krim Magnum Classic Baru, di piring emas di tengah tengah piring piring yang terletak di meja. Ada secarik kertas di dekatnya, tertulis: Untuk King Antonidas. Dan disampingnya, ada sepiring kue khas Dalaran, beserta secarik kertas bertuliskan: Untuk Erick. “Nah, ini maksudnya apa, King Antonidas?” tanyaku kepadanya. “Lha justru itu yang mau kutanyakan padamu! Siapa yang menyiapkan semua ini?” Tanya King Antonidas. “Itu kami semua, King Antonidas dan Erick,” ujar Muse dan Semu bersamaan (Semu adalah istri dari Muse). “Wah, terimakasih ya!” ujar kami berdua serempak. Ii Sianny dan ama senang melihatnya. Mereka sudah lama tidak melihatku senang seperti itu.

Setelah itu, kamipun pulang. Aku merasa senang sekali, sebab hari ini sangat spesial dan penuh kejutan! Malah aku juga sempat dibawa ke rental CD Games computer (letaknya dekat dengan Alfa supermarket) yang memang sering kami kunjungi jika aku ke Surabaya. Itu sudah seperti suatu kewajiban untukku! Di tempat itu, pemandangan yang biasa mulai terlihat. Ruangan ber-ac, sejumlah orang yang sedang mencari cari CD, itu semua pemandangan yang biasa kutemui. “Rupanya tidak ada perubahan yang berarti di toko ini,” ujarku dengan polos. “Tapi yang penting kucari dulu CD yang mau kupinjam. Rasanya ada banyak disini…hmm…” ujarku sembari menduduki satu tempat duduk yang kosong dan mulai mencari cari CD Games yang kusukai. “Hmm… yang ini bukan, yang ini bukan, yang ini… hmm……” ujarku sibuk mencari cari. “King Antonidas, kamu mau pinjam juga? Tak apa, ayo ikut mencari juga! Daripada kamu diam saja kayak patung begitu. Ayo, kemari!” ujarku mengajak King Antonidas. “Iya, sebentar toh, aku juga sedang sibuk disini!” ujar King Antonidas menimpali. Lho? King Antonidas sibuk apa? Memang tadi aku berbicara padanya tanpa menoleh, jadi aku tidak tahu apa yang dia lakukan. Nah teryata, dia sedang membaca buku! “He! Rupanya disitu ada lemari buku! Kok aku baru tahu?” ujarku heran. Dan ternyata, yang dia baca adalah buku Diarynya! Ini fotonya:

6. Buku Diary King Antonidas, yang telah ditaruhnya di Dalaran's Library. Dan akhirnya dia buat juga salinannya, agar dia bisa membacanya kalau perlu. (karena di dalam buku ini, bukan hanya catatan harian yang ada. Resep ramuan atau makanan, catatan beberapa spell ada juga di buku ini!)
Buku itu sangat tebal dan berat! Aku heran, bagaimana King Antonidas bisa membawanya dalam kantongnya yang kecil itu. Ujarnya sih, dia memakai shrinker potion untuk mengecilkan ukuran buku itu dan membawanya dalam kantong, namun itupun masih membuatku heran. Rasanya dulu King Antonidas tidak pernah belajar untuk membuat ramuan. Namun, ya kalau dia memang bisa membuat ramuan ya malah bagus, kan?

Lalu aku melanjutkan mencari CD. Ha, ada lumayan banyak yang mau kupinjam atu ^_^. Mungkin ada setumpuk CD itu! Aku puas sekali, begitupun King Antonidas dan Ii Sianny serta Ama. King Antonidas puas karena dia sudah membaca Koran Dalaran, Ii Sianny puas karena dia berhasil mendapatkan banyak Aplikasi yang diinginkannya, dan Ama sendiri puas karena dia bisa minum sepuas puasnya. Ya, siang itu, semua orang senang!

Lantas, kamipun bergegas pulang. Kenapa? Karena Mother Nature mendung! “Wah, bisa hujan nanti!” seruku terkejut. “Kau benar. Rik, aku musti memperingatkan Uther dulu… Aduh, iya! Nanti Dalaran gimana itu ya? Aduh, pusing aku ini!” ujar King Antonidas dengan kaget pula. “Jangan khawatir, King Antonidas. Aku yakin, nanti pasti akan ada yang melindunginya,” ujarku pada King Antonidas. “Nah, sekarang lebih baik kita semua pulang, karena tampaknya hujan tak lama lagi akan turun,” Ujarku dengan tenang. Dan lantas, setelah itu kamipun pulang ke rumah Ama.

Di sana, masih terlihat hiruk pikuk orang orang Dalaran yang akan membangun sebuah perkemahan kecil. King Antonidas senang melihatnya. “Wah, nyaman nanti aku menemani mereka makan malam,” ujarnya membatin. Ya, pasti menyenangkan kalau bisa duduk duduk di malam yang dingin, di dekat Api unggun nan cerah. Namun, King Antonidas tidak tahu bahwa aku mempunyai sebuah rencana malam ini. Rencana yang mungkin akan tetap melekat di hatiku selamanya (dan memang begitu kenyataannya ^_^). Namun, untuk sekarang, aku ingin mencoba dulu Game game yang kupinjam tadi. Ha, ada banyak atu, jadi bisa puas aku main nanti.

Nah, di Komputernya Ii Siannypun ada game baru, yang membuatku sangat terkejut. Warcraft 3! Inilah game yang menceritakan kisah hidup King Antonidas (walaupun tidak lengkap)! Memang, perlu kuakui bahwa untuk memainkan game ini memerlukan taktik yang lumayan tinggi, karena memang Game ini sulitnya setengah mati. Walaupun ada Cheatnyapun, kan aku belum tahu saat itu?

Sore itu, sebagai perayaan kedatanganku dan sekaligus ulang tahunku, Ii Sianny mengajakku pergi ke Supermall. Wah, bagus itu! Kebetulan, aku sudah mandi. Jadi aku hanya tinggal menunggu Ama, Ii Sianny, dan King Antonidas mandi. Dan setelah itu semua selesai, kamipun berangkat. “Lha tapi bagaimana dengan acaramu dengan penduduk Dalaran, King Antonidas?” ujarku bertanya pada King Antonidas. “Ah, tak apa. Nanti toh kita kan bisa berpiknik di luar Supermall,” ujar King Antonidas senang. “Tapi, yang berpiknik itu mereka, aku akan menemanimu dulu. Oh, ya. Selamat ulang tahun ya rik!” Ujar King Antonidas menambahkan. “Wah! Terimakasih, King Antonidas!” ujarku menimpali dengan senang. Ha, lengkap sudah kebahagiaan di hatiku ini…

Sekitar jam setengah lima sore, kami sudah berangkat menuju ke Supermall. Hatiku senang sekali. Ya, karena nanti aku akan melakukan banyak kegiatan menyenangkan! Pada saat aku memasuki Supermall dan naik ke lantai 1 (dari lantai UG kalau tidak salah) aku sudah mulai gelisah, karena aku mencari Pizza Hut. Ah, akhirnya ketemu juga, batinku. “Ii Sianny, Ama, King Antonidas, ayo kita masuk!” ujarku dengan senang. Dan lalu, aku terjemahkan perkataanku itu ke Bahasa Kalimantan. “Ayo masuk Ama’ai! Kena nda’ duduk dekat Ama’ lah!” ujarku. “He’eh, nyo.” Ujar amaku singkat. Dan kamipun segera masuk. Nah, lantas mendadak aku diberi sebuah balon! Aku senang sekali, apalagi ketika kulihat warnanya biru! Sementara itu, aku langsung memilih tempat duduk, dan lantas mengambil pilihan menu yang tersedia. “He, nyo” ujar Ii Sianny. “Ini ada pilihan filling sosis dan nugget! Sinyo pilih yang mana?” tanyanya. “Yah… eh… sebetulnya sih… aku milih dua duanya, Ii Sianny.” Ujarku menimpali dengan gugup. “Oh, ya sudah. Eh, ini ada juga yang baru model Pizzanya, dengan nugget diatasnya! Hayo, jadinya pilih yang mana?” ujarnya melanjutkan. “Ya… gini aja, aku pilih yang….” Ujarku mulai sibuk memilih – milih. Hanya King Antonidas yang memilih satu menu special, beserta tambahan Es Krim Magnum Classic baru sebanyak 2 buah dan 2 cangkir Dalaran’s Classical Tea. “Yang satu kuperuntukkan untukmu, rik.” Ujar King Antonidas.

Sesudah kami selesai makan, Ii Siannypun segera memanggil petugas untuk memenuhi bayaran. Amaku sedang menyimpan Coca – Colaku yang masih banyak, King Antonidas sedang melihat – lihat menu, dan aku sendiri sedang bermain – main dengan balonku yang tadi itu. Sengaja dibawahnya kuberi pemberat dan cincin, agar bisa kulempar ke tanah dan bisa kugunakan sebagai cincinku ^_^. Setelah itu, akupun mencoba melemparnya berulang – ulang. “Lumayan,” ujarku dengan senang. Dan seketika itu, akupun menjerit – jerit kesenangan ^_^! Dan pada waktu keluar, aku diberi mahkota dari balon! Aku sebenarnya terkejut, namun juga senang. Hanya King Antonidas yang tidak mendapatkannya, karena kan memang King Antonidas sudah mempunyai Mahkota asli. Jadi dia tidak perlu ‘mahkota balon’.

Setelah itu, kami masih berjalan – jalan sebentar. Kami menuju ke Breadtalk, tempat penjualan Roti yang enak namun mahal itu. Di dalamnya, amaku segera mencari Roti tawar, Ii Sianny mencari sedikit kue – kue basah, King Antonidas memesan sebuah paket menu makanan untuk dibawa pulang olehnya, dan aku sendiri memesan Roti sosis dan Roti mentega yang ternyata ada hiasannya. Dan hiasan itu boleh kuambil! Wah, rasanya hari itu seperti hari keberuntunganku!

Lalu, kamipun meneruskan jalan – jalan. Aku sempat heran ketika Ii Sianny mengajakku naik ke lantai 5 (kalau tidak salah) dan lantas langsung mengajakku masuk ke toko buku. “Nyo, ini ada toko buku baru. Namanya Trimedia.” Ujarnya. “Lha? Nah, jangan – jangan Trimedia ini pendahulunya Gramedia, ya?” ujarku bertanya. “Ya sebetulnya istilahnya bukan ‘pendahulunya’, tapi ‘saudaranya’, nyo.” Ujar Ii Sianny. “O…” ujarku. Percakapan singkat itu kami akhiri sesudah itu, karena kami berempat berpencar. King Antonidas mencari beberapa buku Novel yang sudah dikarangnya (dan hal yang lucu, Novel terbitan King Antonidas itu termasuk buku ini! ^_^) dan setelah itu dia segera membayarnya di kasir. Aku sedang membaca buku tentang Kereta Api dan Pesawat, dan Ii Sianny beserta ama masing masing mencari buku kesukaannya. Lalu aku mendengar suara King Antonidas, melalui telepati. “Rik, aku mau piknik sama penduduk Dalaran dulu, ya.” Ujarnya. Di luar Supermall, King Antonidas juga mendengar jawabanku. “Ya, King Antonidas. He, ngomong – ngomong kamu barusan beli buku, ya? Buku apa itu? Kok sepertinya aku pernah lihat?” ujarku. “Ah, itu buku novel karanganku.” Ujar King Antonidas membalas pertanyaanku. “Sengaja kubeli, karena ternyata di Dalaran belum ada satu pun! Aku juga ingin karya tulisku dilihat penduduk Dalaran” ujarnya melanjutkan. “Ya kalau itu mah terserah kamu saja, King Antonidas.” Ujarku mengakhiri percakapan itu sembari mulai membaca buku lagi.

Setelah kuhabiskan waktu yang katakanlah lumayan di toko Trimedia itu, kamipun beranjak pulang. Mother Nature mendung. “Ada apa, Mother Nature?” ujarku. “Ah, tak apa – apa, rik. Aku hanya kebetulan sedih, tapi entah karena apa…” ujarnya. Dan setelah itu, petirpun keluar bak amarah yang tak ada habisnya. Hujanpun turun, menyebar ke seluruh Surabaya. Malam itu seperti malam yang pernah terjadi dulu di Dalaran, yang dinamai King Antonidas’s Holy Nightingale. Waktu itu kejadiannya…


King Antonidas, aku dan Mother Nature sedang mempersiapkan perayaan ulang tahunnya King Antonidas. Memang hari itu merupakan tanggal 17 King Antonidas’s Month Magical Age 2009. Dan di bulannya King Antonidas itu, dia ulang tahun! (mungkin itulah asal muasal nama bulan ketujuh itu) Kami sibuk sekali, sampai sampai Mother Nature kewalahan dan tertelantarkan.

Karena itu, Mother Nature sedih sekali. “Aku memang tidak berguna,” katanya. Dan tampaklah awan awan mendung yang hitam sekali. Sesaat kemudian, petirpun sambar menyambar, dan hujanpun turun di Dalaran. “Hujan! Semuanya berlindung!” ujar King Antonidas dengan cepat. “Mother Nature, ada apa denganmu? Apa yang membuatmu sedih dan marah?” Tanya King Antonidas. “Ah, sebenarnya tidak ada, King Antonidas. Hanya saja aku merasa bahwa aku tidak berguna” ujar Mother Nature sembari tetap menurunkan hujan (yang sama artinya dengan ‘menangis’). “Kau salah, Mother Nature. Kau sangat berguna! Bilamana kau tidak ada, mungkin Dalaran tidak mungkin seperti ini! Mungkin seluruh penghuni dunia akan mati kehausan dan kelaparan! Kau sangat berguna bagi umat manusia, Mother Nature!” ujar King Antonidas.

Akhirnya, Mother Nature berhenti menangis. Dia sendiri yang menamakan malam itu King Antonidas’s Holy Nightingale. Karena di malam itu, malam yang damai itu, King Antonidas menurunkan Tranquility untuk Dalaran. Mother Nature menurunkan Starfall, dan kami hanya bisa melongo melihat hasilnya. “Ini adalah Nightingale pertama yang pernah kulihat seumur hidupku, King Antonidas. Indah sekali! Malam ini akan kunamai King Antonidas’s Holy Nightingale sebab karena itu aku telah meninggalkan kemuramanku dan kembali ke keceriaan. Hal ini akan terus terjadi setiap tahun, manakala bila King Antonidas masih hidup, ialah yang akan melaksanakannya dan bila King Antonidas sudah mengakhiri hidupnya, rohnyalah yang akan melakukannya di tempat yang sama, Dalaran.” Ujar Mother Nature berpetuah. “Dan setiapkali malam ini datang, aku akan kembali ke wujud asliku, dan aku akan pulang ke peraduanku. Sebab itu aku akan bersuka disana, dan aku akan menurunkan berkat yang besar bagi Dalaran” ujar Mother Nature mengakhiri petuahnya.


Dan malam itu, hal yang sama terjadi, di setiap tanggal 17 per King Antonidas’s Month. “King Antonidas’s Holy Nightingale…” ujar King Antonidas. Dan kami semua langsung membisu. “La tranquilites et pour veze su conservationo la stargando!” ujar King Antonidas membaca Spell yang ternyata selanjutnya diketahui berbahasa Dialek latin sederhana. Dan Tranquility keluar, diiringi Starfall. “Wah…” ujarku terperangah.

Yang di Dalaran juga terperangah. Uther sampai hampir pingsan karena Nightingale itu. Memang, Nightingale penerjemahan aslinya adalah Bulbul (Burung Bulbul). Namun, Nightingale disini berarti Pemandangan yang sangat indah (dikutip dari Dictionary of English by King Antonidas, 2011). Aku sendiri diam sambil asyik mengunyah permen karet dan menikmati Nightingale ini. Begitupula Ama dan Ii Sianny, mereka menurungkan niatnya untuk pulang lebih awal. Mereka mengeluarkan keranjang Piknik (dan yang mengejutkan, mereka membelinya di Dalaran! Namanya Fuzzy Logic Picnic Basket ^_^) dan mereka makan – makan di sana. Aku ikut duduk, dan mengambil beberapa buah Pizza. (Memang tadi kami memesan 4 kotak Pizza ukuran besar untuk dibawa pulang. Nah, berhubung ada Nightingale, kamipun mengambil masing masing sepotong dan menikmatinya. “Rik, Nightingale yang di Dalaran itu seperti ini:” ujar King Antonidas lalu dia menunjukkan foto Dalaran:
7. King Antonidas's Holy Nightingale yang pertama kalinya terjadi di Dalaran (Di Foto ini: Bagian atap dari Violet Hold). Seperti Aurora Borealis ya?
“Wah, indah sekali King Antonidas!” ujarku. “Ya, rik. Aku sampai agak sedih, karena Nightingale yang seindah itu tidak pernah terjadi lagi di Dalaran.” Ujar King Antonidas agak sedih. “Ah, tak apa King Antonidas! Yakinlah, kau pasti bisa membuat yang seperti itu lagi!” ujarku memberi semangat. “Iya, rik.” Ujar King Antonidas sembari memandang ke langit dengan tersenyum dan menitikkan air mata.

Lalu, aku melanjutkan piknikku. Walaupun sederhana, tapi kami menikmatinya. King Antonidas juga pada akhirnya ikut makan. “Untung aku ada sekotak Cereale Imperiale. Kalau tidak, mungkin King Antonidas nggak mau makan nantinya,” ujarku membatin. Aku mengeluarkan Handphoneku, dan menyetel lagu ‘José Feliciano – Feliz Navidad’. “Mungkin lagu ini cocok untuk keadaan sekarang,” ujarku membatin.

Setelah Nightingale itu selesai, kamipun segera pulang. Mother Naturepun kembali menurunkan hujan. “Ada apa lagi, Mother Nature? Kenapa kau menangis lagi?” tanyaku padanya. “Ya, Rik. Aku memang menangis, tapi kali ini bukan tangis kesedihan. Ini tangis kebahagiaan,” Ujarnya. Dan akupun tersenyum bahagia.

Waktu itu, kami pulang jam 9 malam. “Wah, rupanya lama juga waktu yang kita habiskan di Supermall,” ujarku kaget. “He, King Antonidas! Astaga, kamu ini betul – betul Raja yang ‘paling sering bersosialisasi dengan rakyatnya’ ya! Masakan sekarang saja dia masih bertamu di rumah Uther! Ya ampun!” ujarku kepada King Antonidas yang berada di Goblin Zeppelin yang telah kusebutkan sebelumnya dengan heran. “He, memang tadi aku diundang Uther untuk berdiskusi sebentar!” lalu ujarnya pada Uther, “Jadi, bagaimana dengan rencana pembuatan Obelisk itu? Masih bisa…” sembari menghirup the hangat yang sudah tersedia di meja. Memang, itulah ‘King Antonidas’ yang sebenarnya, ujarku mendongkol dalam hati.

Kami sampai di rumah jam 10 malam. Setelah masuk, akupun langsung kora – kora (kora – kora disini berarti gosok gigi, cuci muka, dan melakukan segala hal sebagai persiapan sebelum tidur malam). Ha, mungkin kalau terlambat sedikit saja aku sudah dimarahi ama. Memang amaku cerewet orangnya. Namun, dia baik hati dan suka memasak makanan yang enak – enak untukku dan seluruh keluarga. Tapi jangan kira keluarga yang kumaksud itu masih utuh, lho! Kakekku sudah meninggal lama sebelum aku lahir. Bahkan melihat wajahnya saja aku belum pernah. Ah, sudahlah! Toh, yang penting aku bisa jadi montok, soalnya kan ama sering masak makanan yang enak – enak ^_^.

Dan tadi, sebelum aku masuk, aku sempat terkejut karena Lima Sekawan datang dengan Karavan! “Julian! Dick! George! Anne! Kalian datang!” ujarku menjerit – jerit. “Ya, rik. Kami datang untuk berkemah di dekat rumahmu.” Ujar Julian. “Hah? Rumahku? He Julian, kamu salah! Ini rumah nenekku!” ujarku membalas. “Hah? Oh, jadi ini rumah nenekmu toh? Lha ngomong – ngomong adakah tempat yang lumayan bagus untuk berkemah di dekat sini?” Tanya Julian. “Ada, Julian. Itu, disana. Disana ada mata air dan gua kecil untuk penyimpanan makanan. Mungkin Anne akan menyukai pekerjaan itu, menyimpan makanan, mendirikan tenda, dan segala hal yang seperti itu,” ujarku menimpali Julian. “Oui, Julian! Jangan lupa mengambil rumput untuk alas tidur!” ujar King Antonidas mengingatkan. “Karena tanah disini keras sekali! Bisa pegal - pegal kalian nanti!” ujarnya meneruskan. “Iya, King Antonidas. Kamu jangan khawatir, ini pengalaman ketiga kami berkemah. Jadi kami sudah hafal betul apa yang harus dipersiapkan dan dilakukan.” Ujar Julian menimpali, dan diapun segera mengarahkan karavannya ke tempat yang kutunjuk. Aku masih sempat melihat mereka membuat api unggun, sebelum aku turun dari mobil dan masuk kedalam rumah.

Sesudah kora – kora, akupun masuk ke kamar sembari mengeluarkan Summoning Central. Barang itu sejenis Summoning Obelisk, namun kegunaannya jauh lebih kompleks. Summoning Central berupa sebuah bangunan kecil (sangat kecil) yang di depannya bisa dipasangi apa saja. Kalau aku menambahkan patung King Antonidas (ukurannya boleh dikatakan lumayan) dan sebuah Obelisk di depan bangunannya sendiri. Waktu itu aku sedang membaca serentetan jampi – jampi, dan hasilnya King Antonidas, Ii Sianny, Ama, Lima sekawan, dan seluruh penduduk Dalaran melongo karena hujan turun lagi, diiringi petir nan hebat. “Menangislah, Mother Nature. Keluarkanlah air matamu itu! Berdukalah sekarang, agar hal ini tak menggangumu di kemudian hari. MENANGISLAH MOTHER NATURE!” ujarku dengan berwibawa. Petirpun keluar sekali lagi, dan hujanpun turun semakin deras. King Antonidas langsung datang tergopoh – gopoh. “Rik! Dalaran kebanjiran!” ujarnya. “Tingkat berapa?” tanyaku. “Masih tingkat 1, sih. Tapi kita musti lekas – lekas! Kalau tidak, Violet Citadel nanti bisa hancur!” ujar King Antonidas. Lalu, tanpa banyak bicara lagi aku langsung mengucapkan jampi – jampi (spell) yang akan kugunakan untuk menghentikan banjir di Dalaran, yang katanya mah level 1 itu. “La watera zu ascensiono el Dalaran de Fontana de Holy!” lalu aku meneruskan, “La Ascensiono!” ujarku membaca jampi – jampi untuk menerbangkan air (yang dalam bahasa Dialek Kuno). Dan apa yang terjadi detik berikutnya? Air yang di Dalaran langsung hilang entah kemana. “Rik! Kamu kemanakan air itu? Sayang kalau kamu buang!” ujar King Antonidas kaget. “He, kau tak dengar tadi rupanya, King Antonidas. Aku tadi kan mengatakan ini, zu ascensiono el Dalaran de Fontana de Holy! Maksudku, ‘Terbang dan berpindahlah ke Fontana de Holy!’ Jadi, air yang sebanyak itu sudah berada di Fontana de Holy. Dan kalau kamu mau menggunakannya, silakan ambil saja di sana!” ujarku menimpali. Dan walaupun hujan tetap turun dengan derasnya, Dalaran tetap tidak kebanjiran. Mengapa? Tadi sebenarnya aku juga menyebutkan jampi – jampi agar Fontana de Holy selalu menyimpan air yang mungkin akan menjadi banjir di Dalaran. Jadi sebetulnya King Antonidas tidak usah khawatir atuh!

Hari itu kulalui dengan bahagia. Ya, hari itu penuh dengan kebahagiaan, dan kebangkitan akan kenangan yang indah pula. Sebelum aku tidur, aku masih sempat memandang keluar jendela. Seketika itu, tampaklah pemandangan indah dari Surabaya, dilengkapi dengan pemandangan dari kesibukan orang orang Dalaran yang masih akan membangun tenda – tenda kemah kecil dan King Antonidas yang masih saja bercakap – cakap dengan mereka, di api unggun yang sangat indah di tengah – tengahnya. Nightingale itu juga kembali menghiasi langit malam Surabaya. Lampu Hotel Shangri – La terlihat jelas dari kamarku. Aku tersenyum bahagia. Hatiku rasanya sudah tak mampu menahan rasa kebahagiaan ini. Sampai jadinya aku tersenyum – senyum sendiri atuh ^_^. “Aku yakin, tidurku malam ini pasti dipenuhi dengan mimpi indah!” ujarku setengah mengantuk. “King Antonidas, ayo masuk! Kamu harus tidur, agar tidak loyo besok. Ayolah!” ujarku melalui telepati. “Iya, rik.” Ujar King Antonidas menimpali. Lantas, iapun segera masuk ke kamar, dan ikut berebah. Ya, malam itu, kuakhiri dengan damai, tenang, dan bahagia.

Keesokan paginya, aku bangun lumayan pagi. Namun, tak sepagi King Antonidas. Rupanya, dia pergi ke suatu tempat yang tak kuketahui. Tanpa kupedulikan hal itu, akupun segera keluar, dan sedetik kemudian aku dipanggil. “Nyo! Ayo doa dan renungan pagi dulu!” ujarnya. Haiya, ada apa pula ini? Batinku. “King Antonidas! Haiya, rupanya kamu di dapur tho?” ujarku. “Memang iya. Lha tapi sejak kapan kamu jadi ada sisipan ‘Haiya’ nya kalo ngomong?” Tanya King Antonidas. “Ya kalo itu aku nggak tahu kapan. Haiya, ayo kita masuk! Haiya…” ujarku dengan polos. Nyo, sekarang Ii Sianny punya buku keagamaan yang bagus. Dan setiap pagi, selama kamu disini, kita akan melaksanakan ibadah pagi.” “Haiya, baiklah kalau begitu, Ii Sianny.” Ujarku. Seusai percakapan singkat itu, akupun segera mulai ‘memimpin’ doa pagi. Sesudah itu, Ii Sianny membacakan beberapa perikop ayat alkitab yang ada di buku tersebut. King Antonidas mendengarkan dengan sangat saksama. “Ya, jadi kesimpulan dari kisah ini, kalau menurutku, rik, adalah kita harus tabah dalam menghadapi cobaan, karena…” ujar King Antonidas mulai ‘berceramah’. “Haiya, itu benar, King Antonidas.” Ujarku. Setelah acara ‘ibadah pagi’ itu selesai, aku, King Antonidas, Ii Sianny dan Ama lantas segera menuju meja makan. Haiya, ternyata sarapanku pagi itu boleh dikatakan lumayan lho? Ada Nasi Goreng, Telur mata sapi bumbu Bali, dan sepotong Pizza dari Pizza Hut® yang telah kubeli kemarin malam, setiap kotak satu buah, juga Garlic Breadnya! (Ya, aku sebelumnya juga tidak mengetahui bahwa Ii Sianny ternyata memesan Garlic Bread dari Pizza Hut untuk dibawa pulang) Nah, maka dari itulah aku dan King Antonidas langsung berebut makanan yang ada di meja. “Ai nyo! Kada usah berebutlah! Kena nyowa pasti kebagian!” ujar amaku melerai. “He’eh, ama’ai.” Timpalku singkat. Setelah itu, kami masing – masing mengambil tempat duduk, dan langsung makan. Sambil makan, aku juga memikirkan apa aktifitasku hari ini. Ha, mungkin nanti akan ide masuk di otakku atuh.

Memang sebenarnya ‘ide’ itu muncul juga, walaupun sebelum aku sempat mengatakannya, Ii Sianny sudah mencanangkannya duluan. Haiya... “Nyo, bagaimana kalo sore ini kita ke Supermall lagi. Kebetulan Ii Sianny lagi nganggur!” ujarnya. Nah, lho, ujarku membatin. Ii Sianny kok bisa tahu isi hatiku ya? Itu yang membuatku bingung, Namun, tak apalah!

Di Supermall, Ii Sianny menawarkan untuk menonton Bioskop. Memang ternyata setelah disana kami tidak ada ide mau melakukan apa disana. “Haiya, daripada nganggur,” ujarku. Lalu King Antonidas datang dengan Teleport. “Rik! Kenapa kamu pergi tanpa mengajakku?” ujarnya. “Haiya, maaf King Antonidas. Tapi tadi kamu kan masih sibuk, jadi aku tidak mau menganggumu!” ujarku menimpali. “Haiya, ya kalau itu sih terserah kamu saja…” lalu, iapun melanjutkan, “……… He, sejak kapan aku jadi ketularan ‘haiya’ ini? Waduh…”

Dan kamipun mendatangi Cinema 21, yang terletak pada lantai 5. Sesampainya disitu, pemandangan yang ‘sedap’ mulai terlihat. Lampu indah yang redup, meja pendaftaran, hamparan lantai karpet, Gaming Centre (Pusat Games, red.) dan meja penjualan Snack. Di meja pendaftaran, ada 2 Televisi LCD tipis (Flat) yang salah satunya menunjukkan visualisasi dari ruangan bioskop yang sudah ditentukan dan yang satunya menunjukkan sedikit cuplikan film yang akan diputar nantinya. “Ii Sianny, aku mau nonton film ini!” ujarku sembari menunjuk cover CD film Kungfu Panda. “Mbak, ini mulainya jam berapa?” Tanya Ii Sianny. “Jam 8 malam.” Ujar pegawai itu. “HAH?!! JAM 8 MALAM!!! ASTAGA! ITU SANGAT LAMA!!!” Jeritku kaget. “Ya habis mau gimana lagi nyo, lha wong film yang kamu pilih itu mulainya jam 8 malam. Kita tunggu aja ya?” ujar Ii Sianny. “Iya,” Timpalku polos. “King Antonidas,” ujarku lagi, “Kamu mau ikut nonton?” “Ya, bolehlah! Bagiku itu sudah lumayan untuk men’cuci’ mataku.” Ujar King Antonidas. Dan lantas ia langsung bertelepati dengan RnÁ. “RnÁ! Apakah kau di Dalaran sedang melaksanakan suatu Proyek? Bersama Nanacacipactzin, mungkin?” Tanya King Antonidas. “Ya, King Antonidas. Kami sedang membuat ramuan yang sepertinya efeknya sangat hebat! Namun, kami masih butuh waktu sekitar sehari untuk menyelesaikannya.” Ujar RnÁ. “Baiklah, kalau begitu. Dan, bagaimana ramalan cuaca disana? Oh, bagus kalau begitu! Dan apakah…” ujar King Antonidas bercakap cakap dengan RnÁ, selama beberapa waktu.

Aku terheran – heran sendiri pada waktu itu. Kenapa? Karena Ii Sianny sama sekali tidak bingung apa yang harus kami lakukan selama 2 jam itu! Wah, rupanya sudah ada rencana tersendiri, atuh!

Memang betul tebakanku. Pertama, setelah keluar dari Cinema 21, aku langsung diajak ke Fun and Foodcourt Center di lantai paling atas, dimana terdapat sebuah “Dunia Petualangan” yang amat teramat besar (Dunia Petualangan itu semacam gabungan dari kolam bola, perusutan, menara panjat, dan lain lain). “Wah, King Antonidas! Kamu lihat tidak! Tampaknya sangat menyenangkan…” ujarku sambil menoleh. Dan seketika itu aku langsung melongo. “Lho? Kemana lagi King Antonidas ini???” ujarku keheranan. “Aku diluar, rik.” Ujar King Antonidas melalui telepati. “Maaf, ya Rik. Aku mendadak ada tugas.” Ujarnya lagi. “Ya sudah, tak apa kok. Tapi nanti usahakan kembali, ya! Kan aku sudah memesankan tiket Bioskop untukmu.” Ujarku. “Iya, jangan kuatir Rik.” Kata King Antonidas.

“Nyo, Ii pesankan tiket ya,” ujar Ii Sianny. “Iya,” ujarku. Selang beberapa menit, aku malahan sudah mulai keasyikan sendiri ‘berpetualang’ di tempat itu. Memang, kalau kurasa, nama tempat itu cocok dengan sensasi yang kita dapatkan. Memang, tempat itu tidak menyajikan sensasi yang terlalu hebat untuk yang sudah biasa aktif diluar rumah, namun bagiku dan kalian yang masih pemula, sensasi petualangannya betul – betul terasa! Sayang, pikirku kemudian. King Antonidas tidak akan bisa masuk kesini! Batas umur maksimumnya kalau tidak salah 12 tahun, dan King Antonidas itu sudah 120 tahun! Jadi nanti dia mestinya akan makan dan minum di food court, pikirku lagi.

Di dalam, akupun segera masuk ke bagian utamanya. Aku langsung sapai di 2 persimpangan, dimana yang satu ke kiri dan yang lain ke kanan.Kalau boleh kusarankan, kalian jangan ke kiri! Kalian nantinya akan sampai di labirin yang tembus ke sebuah perusutan yang sangat tajam. Kalau berani, coba saja! Tapi aku tak mau! Kalau kalian menuruni perusutan itu, kalian akan sampai di bagian luar. Bila kalian masuk ke persimpangan kanan, kalian akan meneruskan ‘petualangan’ itu.

Bila kalian sudah sampai diatas, kalian bisa mencoba ‘Meriam Bola’. Ini merupakan sejenis penembak bola yang tembus ke kolam bola. Selanjutnya, kalian akan menemui beberapa diding penghalang yang membentuk semacam labirin. Lewati saja, dan kalian akan tiba di perusutan lagi. Namun yang kali ini tidak setajam yang tadi kusebutkan. Malah kalian akan sangat senang bila menuruni perusutan ini. “Haiya, rupanya tidak luput kalau namanya ‘Dunia Petualangan’” ujarku dengan bahagia. “Sayang King Antonidas tida bisa ikutan!” ujarku lagi. Namun, aku tak tahu bahwa malam itu adalah malam terakhirku untuk bisa bertemu King Antonidas. Ya, ada kejadian yang akan membuat King Antonidas terpaksa meninggalkanku untuk waktu yang cukup lama (Dan hal ini malah belum kuketahui sama sekali!) Nanti akan kuceritakan, jadi jangan khawatir ya ^_^.

Aku mendapat jatah main di ‘Dunia Petualangan’ cukup lama, sekitar satu jam. Dan disana, aku benar – benar menikmati jatah mainku itu. Ya, memang banyak fasilitas disana. Selain petualangan, kalian bisa beristirahat di tempat yang kunamakan “Sand Bed Resting Lounge.” Kenapa kunamai demikian? Karena kasur yang ada di tempat itu berisikan pasir yang sehalus beludru! Kalian bisa mencoba tempat itu untuk beristirahat, setelah lelah bermain. Dan aku lupa mengatakan kalau Perusutan terakhir tadi tembus di dekat ruang kasur itu!

Setelah habis waktu satu jamku di sana, akupun keluar. Dan lantas aku langsung menjerit melihat King Antonidas. “King Antonidas!” ujarku berseru. “Ada apa, rik?” ujarnya. “Kamu tadi habis tugas kemana? Dan apa yang kamu bawa itu?” tanyaku. “Tadi habis ada kasus pembunuhan di Dalaran. Aku kan juga tukang selidik, jadi ya tugasku lumayan banyak di bagian itu. Pelakunya telah kutemukan, dan sekarang sudah di Violet Hold kok (Violet Hold adalah penjara, yang berada di Dalaran). Dan yang kubawa ini adalah sepaket kotak makanan yang katanya sih dinamai ‘Food Box’ . Namun kamu pasti tidak menyangka kalau ada sesuatu di dalam. Tapi aku sendiri belum tahu, apa isinya…” ujarnya. “Haiya… Kalau begitu, ayo kita buka!” ujarku dengan bersemangat. “Haiya, baik kalau begitu.” Ujar King Antonidas. Setelah dibuka, tampaklah nasi, manisan pala, beberapa biji sosis ‘hangat’, sekaleng Coca Cola, dan sebuah Es Krim Magnum Classic baru. “Waah… Enaknyaa!” ujarku dan King Antonidas. Lalu kami berdua saling berpandangan dengan wajah merah, “Haiya, ini bukan saatnya bicara konyol!” ujar King Antonidas. “Eh, kalau tak salah untuk menggunakannya, manisan pala ini…” ujarnya sembari menekan manisan pala itu. Dan lantas seluruh bagian nasi itu naik dan membuka. Tampaklah layar sebuah komputer beserta keyboardnya. “Wah… baru kali ini aku melihat yang seperti ini!!!” ujarku dan King Antonidas nyaris bersamaan. “Tapi bagaimana dengan Es krim dan coca cola ini? Ya ampun… Lauknya asli! RnÁ dan Nanacacipactzin ini mikir apa sih?!!” ujar King Antonidas dengan kaget dan jijik. “Mungkin, cara untuk menggunakan es krim itu dibuka seperti ini, King Antonidas.” Ujarku sembari membuka bungkus es krim Magnum itu. Namun, ada yang aneh! Bungkus itu tertutup sendiri setelah kubuka! Pasti ada magnetnya ini, ujarku dalam hati. Bungkusnyapun tidak terbuat dari plastik seperti kebanyakan! Bagian selain penutupnya terbuat dari semacam plastik keras! Pasti didalamnya ada sesuatu!

Memang ada sesuatu, dan itu adalah es krim Magnum sendiri! “Waduh, kok malah es krim betulan ini???” ujar King Antonidas keheranan. “Tidak, King Antonidas. Ini bukan Es Krim Magnum sungguhan, namun hanya replikanya. Dan isinya… Ha! Akhirnya bisa juga kubuka!” ujarku sembari menguak es krim ‘mainan’ itu. “Wah, ternyata iPhone yang dimasukkan disini!” ujarku kaget. “Lha iPhone itu apa toh rik?” ujar King Antonidas bertanya. Ya ampun, rupanya karena King Antonidas keseringan belajar akhir – akhir ini, dia tidak terlalu memperhatikan perkembangan teknologi. Maka dari itu, ia tak paham apa itu iPhone. “iPhone itu adalah Smartphone bikinan Apple corporation. Fiturnya: Layar multisentuh (Multi touch), kamera 2 Megapixel, dan lain - lain” Ujarku. “Itu semua berdasarkan versi iPhonenya. iPhone yang ini adalah versi 3. Kelemahan iPhone versi ini adalah tidak adanya fungsi Video Recorder, jadi kamu tidak akan bisa merekam Video.” Ujarku agak kecewa. “Ya sudah, tak apa kok. Toh yang penting aku bisa bekerja dengannya. Nanti biar kita tunggu saja iPhone yang baru.” Ujar King Antonidas.

Lalu, kami langsung membuka kaleng coca cola itu. Dan kamipun langsung melongo. Isinya alat Fax mini! “Ya Tuhan! Apa apaan ini???” ujar King Antonidas kaget. “Ya lumayan tho! Jadi sambil Googling (Googling adalah aktifitas mencari suatu informasi melalui Search Provider Google), kamu bisa kirim dan terima Fax dari orang lain!” ujarku. “Dan ini untukmu satu, rik! Paket ini sama kayak punyaku, namun ukurannya sedikit lebih kecil. Biar kamu nantinya tidak perlu susah – susah membawanya. Oh, dan HPnya kamu isi sendiri ya,” Ujar King Antonidas lagi. “WAH!!! Terimakasih, King Antonidas!” ujarku menjerit. Dan lantas aku menyusul Ii Sianny yang bergelagat hendak pergi. “HE! RIK! TUNGGU AKU!” ujar King Antonidas sembari meringkasi peralatan yang berupa paket makan itu.

Selanjutnya, Ii Sianny mengajakku ke Trimedia, yang pernah kudatangi sehari sebelumnya. Dan sekali lagi hal itu terjadi: kami bertiga berpencar. King Antonidas mencari Novelnya, aku mencari buku tentang Handphone (spesifiknya, tentang iPhone) dan Ii Sianny mencari beberapa buku tentang tugas yang ia buat (entah apa itu). Kami sibuk sampai seperempat jam. Sesudah itu, Ii Sianny mengajakku belanja, di Hypermart. Kami belanja sekitar 15 menit, dan pada waktu yang lumayan itu aku sibuk sekali. Sebentar kesana, lalu kemari. Kami membeli makanan dan minuman untuk nanti. Ya, pasti lumayan kalau menonton Film sambil makan dan minum. Well, well… ^_^

Setelah itu, Ii Sianny mengajakku makan malam. “King Antonidas, kamu ikut nggak?” tanyaku pada King Antonidas. “Tentu saja!” ujar King Antonidas.

Kamipun langsung menuju daerah Food Court yang kedua. Bagian itu dekat dengan toko hewan (Pet Store). Dan lagi – lagi, kami bertiga berpencar. King Antonidas menuju ke Pet Store, dan aku beserta Ii Sianny memesan makanan di restoran tersendiri (Food Court kan gabungan dari beberapa restoran dan sebuah tempat luas untuk makan?)

Setelah aku selesai memesan, kudatangi Ii Sianny. “Ini kita mau duduk dimana, Ii?” ujarku bertanya. “Ah, di situ saja!!!” ujarnya menimpali. “Haiya, baiklah.” Ujarku menyetujui. Dan ketika kami baru hendak berangkat, King Antonidas datang. Ia menjinjing sebuah rumah hewan yang, yah, boleh dikatakan, sangat besar sekali. “Ini untuk apa, King Antonidas?” tanyaku. “Ini untuk hewan peliharaanku. Tuh~!” ujarnya sambil menunjuk. Astaga, ujarku membatin. Itu kan hamster yang sangat imut!

Tapi aku belum sempat berkomentar apa – apa, karena King Antonidas sudah memesan makanan. Diteleportnya kandang hamster itu ke rumah, beserta hamsternya pula. “Apa yang kamu pesan, King Antonidas?” tanyaku polos. “Anu, Nasi Goreng, Rik.” Timpal King Antonidas singkat, sembari menuju ke tempat duduk yang kutunjukkan. “Ya, kurasa tempat ini cocok,” ujar King Antonidas menggumam. “Hah? Kamu lagi ngapain, King Antonidas?” tanyaku pada King Antonidas yang sedang mengoperasikan ‘Laptop’ Food Boxnya. “Ini, rik. Aku sedang mencari tempat yang bagus untuk berpiknik.” Ujarnya menimpali. “Hooo… Begitu rupanya,” ujarku.

Namun, malam itu aku merasakan secercah firasat yang aneh, dan aku juga merasakan sedikit keanehan yang kesemuanya itu mengarah pada King Antonidas. “Haiya, ada apa ini?” ujarku menggumam. “Kenapa perasaanku tak karuan?” gumamku lagi. “Aku merasa, ada aura aneh yang dipancarkan King Antonidas. Dan Firasatku mengatakan, ada sesuatu yang akan terjadi padanya!” batinku berkata. Namun hal itu tak sempat kupikirkan lebih jauh, karena makanan sudah datang. “Ha, akhirnya datang juga. Aku sudah lapar sekali!” ujarku dan lantas mulai makan, setelah sebelumnya berdoa. “Hmmm… Lumayan enak. Tapi memang, tak seenak buatan sendiri,” ujarku. “Hush! Sinyo ini!” ujar Ii Sianny. Dan setelah itu, kami masing – masing menikmati makanan kami.

Kami menghabiskan 15 menit untuk makan. “Waduh! Nyo, cepetan habiskan makanannya! Nanti kita terlambat nonton Filmnya! Ini lima belas menit lagi mulai!!!” ujar Ii Sianny kaget. “Iya, Ii Sianny. Ini juga tinggal sedikit kok.” Ujarku singkat. Setelah itu, kamipun segera beranjak dari tempat itu. Ii Sianny masih sempat membayar makanan, lalu lari ke Hypermart untuk mengambil barang belanjaan yang sempat dititipkan. Seusai itu, iapun menyusulku yang sudah jalan duluan. “King Antonidas, apakah kamu suka acara kita malam ini?” tanyaku. “Iya, rik. Aku senang sekali, bisa ke kota Metropolitan kayak Surabaya begini. Yah, setidak tidaknya, Surabaya bisa memanjakan diriku. Banyak gedung…” ujar King Antonidas menimpali, namun langsung berceramah pula. Ya ampun!!!

Kamipun langsung ascending (naik, red.) ke lantai atas, tempat Cinema 21 berada. Di sana, kami masih sempat mendengar pengumuman, “Bagi yang akan menonton ‘Kungfu Panda’ di Room 1, beberapa menit lagi Film akan segera dimulai.” Dan pengumuman itu diulang beberapa kali. “Nyo, kamu nggak mau ke kamar mandi dulu?” Tanya Ii Sianny. “Iya, Ii! Ini dari tadi aku ngempet (menahan, red.) kebelet Buang Air Kecilnya!” ujarku. Dan sementara King Antonidas dan Ii Sianny berjalan menuju ruang Bioskop, akupun langsung berlari menuju kamar mandi.

Tapi, ternyata King Antonidas juga mendapat perasaan yang sama sepertiku. “Haiya, ini kenapa ya? Perasaanku jadi tidak enak sekali,” gumamnya. “Dan aku merasa ada secercah aura aneh yang Erick pancarkan! Perasaanku mengatakan, bahwa tak lama lagi aku akan berpisah dengan dia! Ada apa ini???” gumamnya dengan kebingungan. Namun, sama sepertiku, King Antonidas juga tidak sempat memikirkan hal itu lebih jauh. Kenapa? Karena aku sudah menggabungkan diri dengan mereka (Ii Sianny dan King Antonidas).

Walaupun King Antonidas tidak mengatakan apa – apa, tapi dari raut mukanya aku sudah bisa menarik kesimpulan bahwa ia sedang menghadapi masalah, yang tidak kuketahui. Dan begitu pula sebaliknya, king Antonidaspun bisa mengetahui dari raut mukaku bahwa aku memiliki masalah. Yah, kami ini seperti ayah dan anak, ya? ^_^

Kamipun segera masuk. Di dalam, suasananya sangat tenang dan terang. Aku terkagum – kagum sendiri. “Wah…” seruku tertahan. “Wow! It’s Amazing!” ujar King Antonidas. “Eh, rik,” ujar King Antonidas. “Kamu tahu tidak cara mengoperasikan iPhone ini?” ujarnya lagi. “Yah, mungkin,” ujarku menimpali dengan ragu. “Haiya, kalau begitu kamu mau kan mencobanya?” ujar King Antonidas lagi. “Iya, King Antonidas,” ujarku singkat. Lantas kuambillah iPhone itu, dan mulai mencoba mengoperasikannya. “Nah, kalau ‘Slide to Unlock’ ini berarti kita harus menggeser panah ini untuk mengunlock iPhonenya. Sekarang akan…” ujarku mulai mengajarkan sedikit demi sedikit. “Ya sudah, King Antonidas! Nanti kita lanjutkan.” Ujarku singkat.

Sementara itu, ternyata Film akan dimulai. Lampu di dalam ruangan mulai meredup, dan akhirnya padam sama sekali. Layar mulai menampakkan tulisan – tulisan, dan pada akhirnya Filmnya diputar! “Haiya…” gumamku singkat, sembari manggut – manggut ketika melihat Kungfu Panda (Ya, Film itu). “Hmmm…” gumam King Antonidas manggut – manggut sembari memegangi kumisnya yang panjang. Haiya…

Film Kungfu Panda, kalau menurutku, lumayan menarik. Mengisahkan tentang seekor Panda yang ingin menjadi pendekar Kungfu. Yah, kisahnya kalau tidak salah diawali ketika Panda itu tidur siang, di rumahnya. Ia bermimpi bahwa Ia telah menjadi pendekar kungfu yang handal, dan Ia juga memimpin teman – temannya melawan kejahatan. “Haiya, rupanya begitu ceritanya. Hmmmm……” gumamku lagi, sembari mengunyah Pop Corn. “King Antonidas! Ya ampun, kamu ini kok malah mainan iPhone sih!” ujarku berbisik – bisik. “Aku mau lihat peta, Rik!” ujarnya menimpali. “Haiya…” desahku singkat.

Film Kungfu Panda selesai sekitar jam setengah sebelas malam. “Astaga, lama sekali!” ujarku. “Ya, rik!” ujar King Antonidas. “He, jangan lupa ajari aku lagi ya besok!” ujarnya lagi. “Iya, King Antonidas. Kamu tidak perlu khawatir, kok.” Timpalku singkat, sembari beranjak keluar. “Di luar, aku sempat kaget. Kenapa lagi?